Purna Bakti Dr Lindayanti M Hum, Warek II Unand: Kado Buku, Tradisi Akademik yang Layak Ditiru

Al Imran | Senin, 11-10-2021 | 21:55 WIB | 262 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Purna Bakti Dr Lindayanti M Hum, Warek II Unand: Kado Buku, Tradisi Akademik yang Layak Ditiru<p>

Dosen Jurusan Sejarah Unand, Dr Lindayanti M.Hum dan suami (masker hijau) foto bersama editor buku tentang dirinya, Zaiyardam Zubir (kiri), Zulqaiyyim (dua dari kanan) dan Ria Candra Pola (kanan) saat peluncuran dan bedah buku, di ruang rapat senat FIB Unand, Senin pagi. (aguswanto)

PADANG (11/10/2021) - Wakil Rektor II Unand, Wirsma Arif Harahap menilai, melepas dosen yang purna bakti dengan kado sebuah buku, sebuah tradisi akademik yang layak ditiru dan ditularkan pada seluruh fakultas yang ada di Unand.

"Tradisi ini jarang terjadi di lingkungan Unand. Saya sendiri, telah 30 tahun berkarir jadi dosen, baru tiga artikel yang disumbangkan untuk buku dosen yang purna bakti," ungkap Wirsma Arif saat memberikan sambutan pada peluncuran dan bedah buku: "Semuanya Atas Kehendak Allah yang Maha Kuasa: Dr Lindayanti MHum. Di antara Guru, Sahabat dan Murid," di ruang sidang senat FIB, Senin.

Buku setebal 500 halaman ini, merupakan penilaian sahabat dan kolega dari berbagai perguruan tinggi terhadap Lindayanti, yang ditugaskan ke Unand dalam program penyediaan tenaga pengajar di luar Pulau Jawa.


Buku yang dieditori Zaiyardam Zubir, Zulqaiyyim dan Ria Candra Pola ini, juga berisi tulisan alumni dan mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unand yang telah berkiprah di berbagai sektor kehidupan.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unand, Prof Herwandi mengatakan, secara pribadi merasa kehilangan Dr Lindayanti yang memasuki purna bakti di Oktober 2021. Baik sebagai kolega maupun sebagai mahasiswa pertama yang jadi bimbingan dulu.

"Sebagai mantan mahasiswa yang jadi bimbingan beliau, saya dikenal sebagai 'anak nakal.' Banyak kenangan bersama Ibu Linda terutama saat penyusunan skripsi, yang akhirnya jadi sejawat ini," ungkap dia.

"Sebagai sesama dosen, keberadaan Ibu Linda memiliki andil besar pada akreditasi Jurusan Sejarah," tambah Prof Herwandi.

Menurut Prof Herwandi, Dr Lindayanti adalah seorang guru yang hebat. Karena, secara akademik, saat ini sudah sangat banyak mahasiswa beliau, dengan pencapaian akademik tertinggi.

Hal senada juga dikatakan Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unand, Zulqaiyyim. Dia mengungkapkan, Lindayanti yang merupakan pengampu mata kuliah Metode Sejarah, Bahasa Belanda dan Kearsipan, merupakan dosen generasi pertama sejak jurusan ini didirikan.

"Saya adalah mahasiswa dari Ibu Lindayanti dulunya. Banyak kenangan yang mesti diteladani dari beliau," ungkap Zulqaiyyim.

Sementara, Ketua Pelaksana Peluncuran dan Bedah Buku, Fajar Rusvan mengutip pendapat Imam Syafii tentang pencari ilmu yang harus memenuhi enam kriteria yaitu kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh, berkecukupan, bersahabat (belajar) dengan ustaz (guru) dan membutuhkan waktu yang lama.

"Tali temali keenam kriteria ini lah yang membawa kita pada kegiatan hari ini, peluncuran buku yang dijadikan kado untuk melepas Ibu Lindayanti yang memasuki masa purna tugas," ungkap Fajar yang juga Sekjen DPP IKA Sejarah FIB Unand.

Tidak Kenal Sumatera Barat

Dalam sambutannya, Lindayanti mengungkapkan kisah perjalanan hidupnya hingga jadi tenaga dosen di Unand. Menurutnya, saat ditugaskan jadi tenaga dosen ke Unand di masa Orde Baru, dirinya hanya mengenal dua nama yang terkait dengan Sumatera Barat yaitu Mestika Zed dan Idham Jamil.

Selain itu, Kota Padang juga merupakan kota yang asing bagi Lindayanti. Sesampainya di Unand, juga langsung ditugasi untuk mengampu mata kuliah Sejarah Minangkabau.

"Beruntung saya pernah membaca-baca sejarah Minangkabau sebelum berangkat ke Padang di Perpustakaan Islam di Jl Mangkubumi Yogyakarta. Di perpustakaan inilah, saya berkenalan dengan orang Minang lainnya, yakni Zaiyardam Zubir," kisah Lindayanti tentang perkenalannya dengan Zaiyardam Zubir, salah seorang editor buku yang menceritakan tentang dirinya itu.

Dalam acara peluncuran dan bedah buku itu, Direktur Pusat Studi Humaniora (PSH) dan Minangkabau Press, Bahrein dan Prof Herwandi, dalam pidato mereka mendeklarasikan Dr Zaiyardam Zubir sebagai salah seorang kandidat Majelis Wali Amanat (MWA) Unand dari FIB yang masa penerimaan pendaftaran berakhir pada 18 Oktober 2021 ini.

Pemilihan MWA ini, dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 99 Peraturan Pemerintah No 95 Tahun 2021 tentang Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum Universitas Andalas dan Peraturan Senat Akademik Universitas Andalas No 2 Tahun 2021 tentang Tata Cara Pengusulan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Andalas.

Kenggotaan MWA ini terdiri dari wakil dari dosen, alumni, tenaga kependidikan dan mahasiswa. Untuk wakil dari dosen, sebanyak delapan orang yang terdiri dari empat orang jabatan akademik profesor dan empat orang jabatan akademik Lektor Kepala.

Dari unsur tenaga kependidikan, sebanyak satu orang. Wakil dari mahasiswa satu orang. Wakil dari alumni satu orang dan wakil dari masyarakat tiga orang. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar