Wako Bukittinggi Pelajari Ekosistem Batik Solo

Al Imran | Selasa, 16-11-2021 | 11:07 WIB | 79 klik | Kota Bukittinggi
<p>Wako Bukittinggi Pelajari Ekosistem Batik Solo<p>

Wako Bukittinggi, Erman Safar bersama Gibran Rakabuming Raka mengunjungi Pasar Klewer yang jadi sentra bisnis batik, Senin. (humas)

SOLO (15/11/2021) - Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar menjajaki kerjasama dengan Pemerintah Kota Surakarta, dalam bidang kewaspadaan dini gangguan stabilitas daerah dan upaya peningkatan ekonomi masyarakat.

Dalam penjajakan kerjasama itu, kunjungan kerja Erman Safar beserta rombongan, diterima langsung Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka beserta jajaran di kantor balai kota Surakarta, Senin.

Dalam temu ramah itu, Erman dan Gibran terlihat berdiskusi hangat membahas kewaspadaan terhadap permasalahan-permasalahan yang berpotensi mengganggu stabilitas daerah dan juga pencegahannya sejak dini.


Sementara, dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat di tengah pandemi ini, kedua kepala daerah dengan usia masih muda itu, serius membahas terkait produksi dan pemasaran batik khas Minangkabau.

"Untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi masyarakat, Bukittinggi-Solo/Surakarta konsentrasi dalam kerjasama produksi dan pemasaran batik," ujar Erman.

Melalui kerjasama di bidang ekonomi ini, lanjut Erman, mudah-mudahan mampu membuka lapangan usaha baru untuk masyarakat dan meningkatkan penghasilan masyarakat pelaku industri rumah tangga. Karena, ada batik cap batik tulis dengan khas Minangkabau yang akan dikembangkan.

Erman juga berkeinginan menjadikan pembatik lokal Bukittinggi jadi lebih profesional, bahkan juga mengantongi sertifikasi seperti yang sudah dilakukan pemerintah Kota Surakarta.

Ia menjelaskan, keberadaan batik di Bukittinggi sudah muncul, namun belum memiliki kualitas sebaik di Solo dan variasi produk juga belum banyak.

"Kita ingin Bukittinggi bisa memproduksi batik dengan kelas ekonomi yang berharga puluhan ribu hingga kualitas premium," tukas Erman Safar.

Selain itu, ujar Erman, motif batik di Bukittinggi belum memiliki pakem dan filosofi tertentu. Ia mengatakan, hal tersebut berbeda dengan batik asal Solo yang sarat akan filosofi.

"Ada beberapa motif yang ada aturan pemakaiannya. Itu juga yang ingin kita dapatkan di Solo," katanya.

Transfer Pengetahuan

Menanggapi hal itu, Gibran mengapresiasi kunjungan kerja Erman dan rombongan.

"Terima kasih atas kunjungan kerjanya, selain bekerjasama terkait kewaspadaan dini gangguan stabilitas daerah, Solo dipercaya dijadikan role model untuk kerajinan batik di Bukittinggi," ujar Gibran.

Wali Kota Bukittinggi bersama rombongan, lanjut Gibran, ingin mempelajari proses batik di Solo.

"Kami sengaja mendatangkan pengusaha dan seniman batik di Solo untuk transfer of knowledge soal batik. Kami bisa sharing pengetahuan, nantinya di Bukittinggi juga akan bisa terwujud adanya kampung batik," ujar Gibran.

Dari pertemuan ini berhasil mencapai komitmen bahwa kota Bukittinggi akan dibantu oleh pemerintahan Surakarta dan pengusaha pelatihan produksi dan pemasaran produk agar go nasional dan internasional.

Erman menginginkan, agar ekonomi Kota Bukittinggi tidak lagi tersentral pada upaya menjual komoditas khas daerah yang terbatas, namun diperluas dengan mengambil peran untuk memproduksi dan memasarkan produk-produk umum yang menguasai kebutuhan pasar saat ini.

Antara lain batik dan souvenir khas Indonesia.

Dalam kunjungan kerja itu, Erman dan rombongan juga diajak Gibran mengunjungi pusat batik dan tekstil di Solo, Pasar Klewer.

"Dulu, Pasar Klewer ini pernah terbakar. Kita perlu belajar bagaimana Pemerintah Kota Surakarta dapat menanggulangi dengan baik bencana kebakaran yang menimpa Pasar Klewer, sehingga pasar itu bisa kembali berkembang pesat seperti saat sekarang," tutur Erman. (ham/rls)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar