Dugaan Korupsi Perjalanan Dinas Fiktif DPRD Pasbar

IS 'Dipakaikan Rompi Orange' Usai Diperiksa 5 Jam

Al Imran | Selasa, 23-11-2021 | 19:54 WIB | 591 klik | Kab. Pasaman Barat
<p>IS 'Dipakaikan Rompi Orange' Usai Diperiksa 5 Jam<p>

Mantan anggota DPRD periode 2014-2019, IS mengenakan rompi orange usai menjalani pemeriksaan selama 5 jam di kantor Kejaksaan Negeri Pasaman Barat, Selasa. (robbi irwan)

PASAMAN BARAT (23/11/2021) - Kejaksaan Negeri Pasaman Barat menahan satu orang mantan anggota DPRD Pasaman Barat, IS terkait perkara dugaan penyimpangan perjalanan dinas fiktif tahun anggaran 2019, Selasa malam.

IS sudah ditetapkan tersangka bersama empat orang mantan anggota DPRD periode 2014-2019 lainnya. Sebelumnya, tersangka berhalangan hadir saat dipanggil, karena masih sakit usai menjalani operasi.

"Hari ini dipanggil kembali. Setelah menjalani pemeriksaan lebih kurang lima jam sebagai tersangka dan hasil pemeriksaan tim medis menyatakan tersangka sehat, maka langsung dilakukan penahanan," ujar Kepala Kejaksaan Negeri Pasaman Barat, Ginanjar Cahya Permana melalui Kasi Pidsus, Andy Suryadi didampingi Kasi BB Firdaus pada wartawan.


Menurutnya, IS selanjutnya dititipkan di rumah tahanan Polres Pasaman Barat, sebelum dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor di Padang. IS juga dikenakan rompi warna orange saat digiring ke mobil tahanan.

IS ditetapkan sebagai tersangka bersama empat orang mantan anggota DPRD Pasaman Barat lainnya, sejak 29 Oktober 2021 lalu.

"Tersangka kooperatif saat diperiksa. Tidak ada kesulitan saat memeriksa tersangka," sebutnya.

Dengan ditahannya satu orang lagi, maka pihak Kejaksaan Negeri Pasaman Barat telah menahan lima tersangka pada kasus tersebut.

"Dalam kasus ini, kita akan terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak yang terlibat. Tidak tertutup kemungkinan, akan ada tersangka baru," tegasnya.

Ia menjelaskan, para tersangka diduga melakukan tindakan korupsi pada anggaran perjalanan dinas pada Sekretariat DPRD Pasaman Barat pada tahun anggaran 2019 dan 2018, dengan anggaran yang terserap sekitar Rp27,165 miliar lebih dari total anggaran sebesar Rp32,015 miliar.

"Kerugian negara akibat perbuatan tersangka, lebih kurang Rp650 juta," katanya.

Ia menyebutkan, penahanan tersangka dilakukan setelah tim penyidik menemukan barang bukti dugaaan tindak pidana korupsi serta dari keterangan saksi-saksi.

"Sekitar 30 lebih saksi telah kita periksa dengan barang bukti berbagai dokumen. Ini baru tahap awal dan akan terus dikembangkan. Tidak tertutup, akan ada tersangka baru nantinya," tegasnya.

Para tersangka dikenakan Pasal 2 Ayat 1 sub Pasal 3 UU RI No 31 Tahun 1999 diubah jadi UU RI No 20 Tahun 2021 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Ia mengakui, tersangka sudah mengembalikan kerugian negara setelah pada proses penyidikan dan sudah disetorkan ke kas daerah.

"Proses perkara ini akan terus kita kembangkan dengan memanggil saksi-saksi kembali," ujarnya. (pl1)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar