Perpaduan Adat dan Agama, Kiai Said: Itulah Ciri Khas Islam Nusantara

Al Imran | Minggu, 28-11-2021 | 11:51 WIB | 96 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Perpaduan Adat dan Agama, Kiai Said: Itulah Ciri Khas Islam Nusantara<p>

Ketua Umum PBNU, Prof KH Said Aqil Siradj foto bersama Ketua PWNU, Prof Ganefri dan jajaran pengurus serta PCNU se-Sumatera Barat, usai dialog di aula Rektor Universitas Negeri Padang, Sabtu.

PADANG (27/11/2021) - Islam Nusantara yang disampaikan Nahdlatul Ulama, bukanlah agama baru, keyakinan baru, sekte agama baru maupun ajaran agama baru. Akan tetapi, Islam Nusantara merupakan ciri khas Islam di Indonesia.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof KH Said Aqil Siradj dihadapan pengurus PWNU dan PCNU se-Sumatera Barat, di aula Rektor Universitas Negeri Padang, Sabtu.

Menurut Kiai Said, Islam Nusantara merupakan Islam yang toleran dengan nilai-nilai budaya yang sudah tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat sebelum Islam masuk ke Indonesia.


"Bagi NU memandang budaya itu sebagai infrastruktur agama. Sehingga umat beragama menjalankan kewajiban agamanya disesuaikan dengan budaya yang sudah," terangnya.

"Kita temui acara mauludan, pakai sarung, kopiah hitam di kepala, pemakaian beduk di masjid sebagai tanda masuknya waktu shalat, semuanya itu bukanlah berasal dari Arab. Semua itu merupakan budaya yang dikaitkan dengan nilai-nilai agama. Sejak itu, semua hal di atas menjadi bagian dari kegiatan keagamaan," kata Kiai Said.

Menurut dia, sebenarnya dengan falsafah adat Minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), Sumatera Barat sudah merupakan Islam Nusantara banget. Artinya kearifan lokal dengan menerima perpaduan adat dan agama, itulah ciri khas dari Islam Nusantara.

Termasuk Hubbul Wathon Minal Iman yang memiliki arti cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

"NU dengan Islam Nusantaranya ingin mengembangkan Islam yang berakhlak dan berbudaya. Dengan budaya akan memperkuatkan kehidupan beragama di tengah masyarakat. Tantangan budaya nusantaran saat ini memang sangat berat."

"Karena, pengaruh media sosial ini sangat luar biasa dalam kehidupan sekarang. Karena itu, jagalah budaya kita sendiri. Jangan terpengaruh dan ikut-ikutan dengan budaya luar, sekalipun di luar negeri menuntut ilmu," pinta Kiai Said.

Kiai Said mencontohkan, dirinya yang 13 tahun belajar di Timur Tengah (Arab). Begitu juga ulama-ulama terdahulu belajar di Mekah, mereka pulang bukan membawa budayanya, tapi adalah membawa ilmu yang akan dikembangkan.

Karena itu, silakan belajar bertahun-tahun di Timur Tengah maupun di Eropa dan Amerika. Akan tetapi, berada dalam budaya nusantara. Jangan pula sampai berbudaya dan bersikap seperti budaya dimana mereka pernah belajar bertahun-tahun.

Acara bertajuk silaturrahmi dan dialog bersama Kiai Siad Aqil Siradj ini, dipandu Sekretaris PWNU Sumbar, Suleman Tanjung.

Turut memberikan sambutan Ketua PWNU Sumbar, Prof Ganefri, dihadiri Musytasar PWNU Prof Asasriwarni, A'wan PBNU, Buya Tuanku Bagindo M Leter dan sejumlah pengurus PWNU dan PCNU dan pimpinan lembaga di jajaran PWNU Sumatera Barat. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar