Liputan Khusus

Benteng Ford de Kock dan Jl Perintis Kemerdekaan akan Direvitalisasi untuk Perkuat Pariwisata

Al Imran | Minggu, 10-12-2021 | 00:17 WIB | 1531 klik | Kota Bukittinggi
<p>Benteng Ford de Kock dan Jl Perintis Kemerdekaan akan Direvitalisasi untuk Perkuat Pariwisata<p>

Wako Bukittinggi, Erman Safar bersama Marfendi (Wawako Bukittinggi).

BUKITTINGGI (12/12/2021) - Bukittinggi merupakan salah satu kota tujuan utama dalam dunia kepariwisataan Sumatera Barat bahkan Indonesia. Kota yang berada pada ketinggian 909-941 mdpl (meter di atas permukaan laut) itu, memiliki destinasi wisata yang unik sekaligus bentangan alam yang indah.

"Kekayaan alam dan budaya Kota Bukittinggi, sudah tidak diragukan lagi. Sekarang tinggal mengisi kalender kepariwisataan saja lagi. Kehadiran Desa Wisata, diharapkan jadi salah satu inisiator dalam menyelenggarakan kegiatan seni, melengkapi kekayaan alam dan budaya itu," ungkap Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar melalui Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Parpora), Supadria.

Secara geografis, Bukittinggi terletak dalam rangkaianBukit Barisanyang membujur di sepanjangPulau Sumatera. Dikelilingi oleh dua gunung berapi yaituGunung Singgalangdan Marapi.


Kota ini memiliki luas 25,24 kilometer persegi. Topografinya berbukit-bukit dan berlembah. Dimana, beberapa bukit tersebut tersebar dalam wilayah perkotaan. Kota Bukittinggi juga memiliki potensi budaya yang menjadi andalan daya tarik bagi wisatawan datang berkunjung.

"Dinas Parpora hanya menfasilitasi. Sedangkan atraksinya, seperti tarian-tarian, pencak silat, tari gelombang, pasambahan dan lainnya itu bersumber dari masyarakat yang tergabung dalam Desa Wisata," terang Supadria.

Dikatakan, saat wisatawan datang ke daerah Sanjai maka di sini akan ada atraksi budaya khas daerah Sanjai. Begitu juga bila datang ke Kayu Kubu, juga ada atraksi budaya yang ditampilkan yang atraksinya berbeda satu sama lain.

Selain seni tradisi, terang Supadria, kegiatan khatam al Quran juga sangat menarik untuk dijadikan atraksi wisata. Karena, yang dilakukan bukan hanya dari sisi agama saja, tetapi itu adalah sisi budaya yang dipertahankan.

"Alek nagari khatam kaji (khatamquran) adalah atraksi luar biasa. Semua masyarakat pasti datang. Walau yang khatam hanya puluhan orang, tapi yang datang bisa ratusan orang. Ini perpaduan aspek pemerintahan, agama dan budaya," terangnya.

Dikatakan, dalam konteks pengembangan kepariwisataan, pemerintah akan memposisikan sebagai fasilitator.

Revitalisasi Benteng Ford de Kock

Terpisah, Ketua DPRD Bukittinggi, Beny Yusrial mengungkapkan, pada tahun anggaran 2022 mendatang, akan dilakukan revitalisasi kawasan Benteng Ford de Kock. Revitalisasi kawasan ini untuk menjadikannya sebagai tempat yang bisa menceritakan sejarah kota wisata ini, pada setiap pengunjung yang datang.

"Untuk detail revitalisasi kawasan Benteng Ford de Kock ini, kita serahkan pada ahlinya. Walau pandemi Covid19 ini belum diketahui kapan berakhirnya, kita mesti terus bersiap untuk menyambut kedatangan wisatawan di masa depan," ungkap Beny di Bukittinggi.

Untuk mendukung visi kebudayaan dari pasangan Erman Safar dan Marfendi, ujar Beny, juga disepakati pembangunan gerbang kebudayaan di Jalan Perintis Kemerdekaan.

"Kawasan Jl Perintis Kemerdekaan ini akan dijadikan fasilitas ruang terbuka bagi setiap elemen masyarakat untuk melakukan atraksi seni dan kebudayaan," ungkap Beny.

Selanjutnya, tradisimakan bajamba, juga akan dimasukan dalam agenda perayaan hari jadi kota Bukittinggi di 2022 nanti. "Semoga, upaya ini bisa jadi magnet wisatawan untuk datang berkunjung," harapnya.

Libatkan Ninik Mamak

Tokoh masyarakat Kurai, AA Dt Nan Angek menilai, secara visi misi, H Erman Safar telah melibatkan niniak mamak dalam pembangunan terutama di sektor pariwisata.

"Iven yang mengangkat budaya Bukittinggi jadi andalan pariwisata, sampai saat ini belum terwujud mungkin karena terkendala pandemi Covid19," ungkapnya.

Sedangkan daya tarik budaya yang bisa dikemas untuk wisatawan, salah satunya yakni acara pernikahan. Mulai dari acara tunangan hingga akad nikah dan pesta yang menggunakan seni anak nagari berupa randai, saluang dan tari piring, merupakan potensi yang belum digarap.

"Ini sudah tergabung dalam visi misi Erman Safar-Marfendi dengan harapan, diupayakan anggarannya di tahun 2022," ungkap Inyiak Dt Nan Angek.

Dia berharap, ninak mamak di Bukittinggi, bersenergi dengan pemerintah. Istilahnya,Bajanjang Naik, Batanggo Turun, Bapucuak Bulek Baurek Tunggang. Dimana, niniak mamak berfunsi sebagaiPai Tampek Batanyo, Pulang Tampek Babarito.


"Selama ini diperhatikan, pelibatan niniak mamak dalam pembangunan sudah ada sejak wali kota dijabat Pak Djufri. Di era Pak Ismet Amzis, peran niniak mamak lebih banyak dilibatkan dalam kegiatan seremonial. Di era wali kota dijabat Pak Ramlan Nurmatias, keterlibatan niniak mamak makin kecil untuk ikut berkontribusi pada proses perencanaan pembangunan," ungkap dia.

Di Bukittinggi ini, terang dia, ada gelar datuak bukan seorang niniak mamak. Dulunya, ninik mamak di Kurai ini sebanyak 126. Sedangkan sekarang, diperkirakan ada 200 niniak mamak.

"Niniak mamak yang ratusan ini, dapat bersinergi dengan pemerintah seperti memberikan fasilitator dan mediasi yang berfungsi dalam rangka pembangunan Bukittinggi," ungkapnya. (adv)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar