Industri Kreatif Indonesia Mesti Bersiap Sambut Siaran Digital

Al Imran | Selasa, 21-12-2021 | 22:56 WIB | 92 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Industri Kreatif Indonesia Mesti Bersiap Sambut Siaran Digital<p>

Komisioner KPI Pusat, Yuliandre Darwis foto bersama dengan peraih anugerah KPID Sumbar kategori Tokoh Inspiratif Penyiaran di antaranya Mahyeldi (gubernur Sumbar), Leonardy Harmainy (anggota DPD RI) dan Irsyad Syafar (wakil ketua DPRD). Ikut mendampingi, Ketua KPID Sumbar, Afriendi Sikumbang dan Kepala Dinas Kominfotik, Jasman.

Momentum peralihan dari siaran analog ke digital di Indonesia per November 2022 mendatang, menurut Yuliandre, mesti dimanfaatkan pemerintah untuk menumbuhkan industri kreatif.

"Korea Selatan merupakan salah satu negara yang sukses dengan industri kreatifnya. Berdasarkan riset Oxford Economics, industri kreatif di sektor perfilman dan pertelevisian Korea Selatan menyumbang KRW 7,55 triliun dalam pembentukan Produk Domestik Bruto pada 2011," ungkap Yuliandre saat mewakili ketua KPI Pusat pada peyerahan Anugerah KPID Sumatera Barat 2021 di auditorium gubernuran Sumbar, Selasa.

Dibandingkan Indonesia dengan Korea Selatan, menurut Yuliandre, industri kreatifnya masih belum apa-apanya. "Kekayaan alam dan budaya kita sangat beraneka ragam. Pemerintah mesti memberi ruang pada anak-anak muda untuk menggerakan industri kreatif seperti yang dilakukan pemerintah Korea Selatan," ungkap dia.


Di momen itu, Yuliandre juga menerima anugerah KPID Sumbar untuk kategori Tokoh Nasional Penyiaran Digital. Selain Yuliandre, anugerah serupa juga diberikan pada Menkominfo, Johnny G Plate dan Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid.

Beralihnya sistem penyiaran analog ke digital, menurut Yuliandre, membutuhkan figur-figur kreatif yang siap bertarung secara global. "Content is The King. Konten adalah raja di zaman siaran digital mendatang," tegas Yuliandre.

"Indonesia terkenal dengan sinetron yang ribuan seri. Jika ditonton, butuh waktu 8 tahun baru selesai. Hasilnya bagi devisa negara tak jelas. Bandingkan dengan Korea Selatan, serial dramanya tak begitu panjang. Tapi, merambah dunia global sehingga mendatangkan devisa," ungkap Yuliandre.

Sementara, Gubernur Sumbar, Mahyeldi menilai, Sumatera Barat menyimpan banyak kisah dan sejarah yang belum digarap secara industri kreatif. Mahyeldi kemudian menyebut sejarah PDRI dan Kisah Siti Nurbaya, di antara kekayaan budaya yang masih belum dieksploitasi oleh tangan-tangan kreatif Minang.

"Pemerintah mendorong pelaku industri kreatif dalam berkarya," ungkap Mahyeldi. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar