DPP IKA Sejarah Unand Gelar HVCE 2021

Hilmar Farid: Masyarakat mulai Kehilangan Nilai Ideal di Era Disrupsi

Al Imran | Rabu, 22-12-2021 | 10:55 WIB | 132 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Hilmar Farid: Masyarakat mulai Kehilangan Nilai Ideal di Era Disrupsi<p>

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid

PADANG (22/12/2021) - Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid menyebut, di era disrupsi saat ini, masyarakat mulai kehilangan pegangan akan nilai-nilai idealnya.

"Oleh karena itu, diperlukan pemahaman sejarah yang baik, agar nilai-nilai luhur tersebut tidak luntur," ungkap Hilmar Farid saat jadi keynote speaker pada acara Historian Virtual Career Expo (HVCE) 2021, Kamis.

Komisaris Utama Balai Pustaka sebuah Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dibidang percetakan dan publikasi ini berharap, dengan adanya HVCE 2021 ini, peserta bisa mendengar cerita-cerita hidup yang menarik dari para narasumber.


HVCE 2021 ini digelar DPP IKA Sejarah Universitas Andalas pada 18-19 Desember 2021. Acara ini bertujuan untuk menghimpun perspektif dan pengalaman empiris dari sejumlah alumni jurusan sejarah dari berbagai kampus, sehingga para mahasiswa dan lulusan baru (fresh graduate) memiliki pandangan yang lebih luas, terhadap jurusan sejarah itu sendiri.

Kegiatan yang dilangsungkan secara daring ini, dibuka Ketua DPP IKA Sejarah Unand, Imelda Sari. Dalam sambutannya, Imelda Sari mengatakan, alumni jurusan sejarah tidak hanya bergiat di bidang kesejarahan saja. Tetapi, juga di bidang-bidang lainnya seperi jurnalistik, politik bahkan teknologi dan informasi.

HVCE 2021 dibagi jadi empat sesi dengan dua sesi per harinya. Narasumbernya adalah alumni jurusan sejarah yang sudah berkarir di berbagai bidang.

Di hari pertama, narasumber yang memberikan pemaparan materi adalah Sekretaris Direktorat Kebudayaan Kemendikbud Ristek, Fitra Arda, Siti Fatimah (Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang), Letkol Caj Jeni Akmal (Sejarawan Disjarah TNI AD).

Kemudian, Prof Herwandi (Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas), Sofia Mardaliati (Owner Savero Musik) dan Rizki Kurniawan Nakasri (Wakil Bupati Kabupaten Limapuluh Kota).

Para narasumber di hari pertama ini, memberikan pemaparan mengenai bagaimana membangun jaringan dan proyeksi lintas sektor serta bagaimana menjadi enterpreneur dalam berbagai bidang.

Pada hari kedua, acara ini terbagi dalam dua sesi dengan topik yang berbeda di setiap sesinya. Sesi pertama dengan topik Kiat Survive dalam menghadapi perkembangan zaman. Pada sesi tersebut, Khairul Jasmi yang jadi narasumber.

Dia menceritakan pengalamannya, memilih jurusan sejarah dengan keterpaksaan. Akan tetapi, banyak hal baru yang dapat dipelajari. Hingga dibalik keterpaksaan tersebut, membuat dirinya justru suka dan senang belajar sejarah. "Pada akhirnya, kita harus menyukai apa yang sudah kita miliki," kata Khairul Jasmi.

Pada sesi yang sama, Undri juga memberikan tips agar dapat tetap bertahan dengan perkembangan zaman dan teknologi yang kian cepat. Menurutnya, melihat perubahan yang terjadi memang harus dari sudut pandang yang baru, melihat dari sisi lain dan tentu saja dengan pengetahuan yang berkembang.

Undri kemudian mengutip teori survival of the fittest yang jadi populer setelah diulas Charles Darwin. Bahwa, siapa yang paling kuat dan cepat melakukan adaptasi, dia yang mampu bertahan.

Kemudian, pada sesi kedua dengan topik digital entrepreneur diisi empat narasumber. Di antaranya Nasution Syofian, Yogi Yolanda, Rico Sapta Hadi dan Budi Putra. Sesi ini diharapkan dapat bertujuan sebagai wadah pembelajaran untuk mahasiswa sejarah maupun lulusan sejarah, agar bisa mendapatkan kiat-kiat menjadi digital entrepreneur dari para pemateri.

Nasution Syofian sebagai Komisaris Utama AET Travel Indonesia berbagi kisahnya untuk mencapai kehidupan yang sekarang. Dia harus melalui lika-liku yang cukup panjang. Sejak duduk di bangku kuliah, sudah menjalankan berbagai macam usaha dan mengikuti berbagai macam organisasi untuk mendapatkan link.

"Apapun yang diniatkan dalam bekerja dan berusaha, jangan lepas untuk selalu minta doa dari orang tua," kata Nasution memberikan tips.

Rico Sapta Hadi, juga sependapat dengan Nasution. Bahwa, masa perkuliahan adalah masa untuk mulai membentuk diri, memperkuat relasi, mengembangkan kemampuan yang dimiliki, fokus pada tujuan dan jangan malu apalagi ragu, untuk memulai sesuatu.

Yogi Yolanda, Komisaris PT All Indonesia, ikut menjelaskan, apabila untuk mencapai hal yang besar, harus menjalani proses. Karena, segala hal tidak ada yang didapatkan dengan instan. "Mencari orang yang royal itu gampang, namun mencari orang yang cerdas dan berintegritas itu sulit," kata Yogi.

Sesi ini ditutup dengan paparan Budi Putra, Founder dan CEO Ekuator Media. Menurutnya, memperluas ilmu dari membaca buku dan menyediakan waktu bertemu orang lain untuk bertukar pikiran, adalah hal yang harus dilakukan semasa kuliah.

"Hal itu dapat membuka wawasan juga memupuk diri ke arah yang lebih baik," tukas Budi Putra.

Beragam pemateri dengan bermacam profesi ditampilkan pada HVCE 2021 ini, diharapkan Sekjen DPP IKA Sejarah Unand, Fajar Rusvan, jadi agenda rutin organisasi alumni.

"Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan sinergitas dan kolaborasi masing-masing potensi alumni beserta jaringannya, dapat terwujud," tukas Fajar Rusvan, penulis muda yang telah melahirkan belasan buku itu. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar