Pariwisata Potensi jadi Lokomotif Ekonomi, Wahyu: Efek Gandanya Luas

Al Imran | Selasa, 29-03-2022 | 23:00 WIB | 84 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Pariwisata Potensi jadi Lokomotif Ekonomi, Wahyu: Efek Gandanya Luas<p>

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat, Wahyu Purnama pada kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Sumatera Barat di Aula Anggun Nan Tunggal Kantor Perwakilan BI Sumbar, Selasa.

PADANG (29/3/2022) - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat, Wahyu Purnama mengatakan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, Sumatera Barat perlu mengembangkan sumber pertumbuhan ekonomi baru sebagai lokomotif perekonomian ke depan.

Hal tersebut disampaikan Wahyu pada Diseminasi Laporan Perekonomian Sumatera Barat di aula Anggun Nan Tinggal Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat, Selasa.

Ia melihat, kedatangan wisatawan memiliki dampak yang luar biasa dalam menggerakkan begitu banyak kegiatan sektor lain, seperti perhotelan dan restoran, transportasi, produk kerajinan dan industri olahan makan/minum dan jasa.


"Pariwisata berpotensi menjadi lokomotif baru perekonomian Sumatera Barat karena memiliki efek ganda yang luas," ujarnya.

Selain itu, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Sumatera Barat akan tumbuh lebih baik pada 2022 berada pada kisaran 4,2 persen hingga 5 persen.

"Ekonomi Sumbar 2022 dipengaruhi oleh mobilitas dan aktivitas ekonomi yang kian membaik," kata Wahyu

Menurut Wahyu, proyeksi membaiknya perekonomian Sumbar didasari oleh beberapa faktor seperti vaksinasi Covid19 yang terus berjalan mendorong normalisasi aktivitas ekonomi.

Kemudian, harga komoditas unggulan CPO dan karet yang masih tinggi 2022 dan membaiknya sektor pariwisata seiring dengan mobilitas yang meningkat.

Namun demikian, beberapa risiko penahan pertumbuhan ekonomi 2022 tetap perlu diantisipasi seperti munculnya beberapa varian baru COVID-19 sehingga menahan proses pemulihan ekonomi serta konflik Ukraina-Rusia memburuk yang memberikan tekanan kepada perekonomian global.

Selain itu ia mengingatkan akan tekanan inflasi pada 2022 yang diperkirakan juga meningkat.

Pada 2021 inflasi Sumbar tercatat rendah yaitu sebesar 1,40 persen, atau lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi pada tahun 2020 yang sebesar 2,11 persen.

Realisasi inflasi Sumatera Barat pada 2021 ini juga tercatat lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi nasional yang sebesar 1,87 persen.

"Akan tetapi ia mengingatkan pada Februari ini angka inflasi Sumbar sudah mencapai 2,77 persen, ini harus diwaspadai hingga akhir tahun," katanya.

Pada sisi lain, ia melihat perekonomian Sumatera Barat cenderung tumbuh melambat setiap tahun seiring kinerja lapangan usaha utama daerah yang trennya menurun.

"Pangsa lapangan usaha pertanian dan industri pengolahan dalam tren menurun, diikuti laju pertumbuhan yang melambat," imbuhnya. (vri)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar