Mengkhawatirkan, Pencari Ikan Bilih di Danau Singkarak Tembus 4 Ribu Orang

Al Imran | Sabtu, 23-04-2022 | 11:31 WIB | 108 klik | Kab. Solok
<p>Mengkhawatirkan, Pencari Ikan Bilih di Danau Singkarak Tembus 4 Ribu Orang<p>

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi menyapa warga saat berjalan kaki ke Kantor Wali Nagari Saniang Baka, Kecamatan X Koto Singkarak, Jumat. (humas)

SOLOK (22/4/2022) - Badan Pengelola Kawasan Danau Singkarak (BPKDS) keluhkan makin menjamurnya penangkapan ikan bilih, ikan endemic di salah satu danau prioritas nasional itu. Selain itu, juga dikeluhkan minimnya tempat sampah di danau yang terletak di dua kabupaten itu yaitu Kabupaten Solok dan Tanah Datar.

Hal itu terungkap dalam silaturahmi Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi dengan BPKSD di Kantor Wali Nagari Saniang Baka, Kecamatan X Koto Singkarak, Jumat. BPKSD ini beranggotakan wali nagari yang ada di salingka Danau Singkarak.

"Selain sampah, masalah Danau Singkarak yang kursial saat ini adalah jumlah penangkap ikan bilih yang terus bertambah. Sekarang sudah lebih dari 4 ribu, dari awalnya hanya seribu orang. Ini perlu pengaturan ketat agar ikan endemic ini tak punah," ungkap Ketua BPKDS, Jasman menginformasi persoalan ke Mahyeldi.


Dikesempatan itu, juga hadir Anggota DPRD Kabupaten Solok, Nazar Bakri serta para wali nagari ataupun yang mewakili dari nagari-nagari salingka Danau Singkarak. Di antaranya dari Sumani, Paninggahan, Singkarak, Muaro Pingai dan Saniang Baka. Selain itu turut mendampingi gubernur, Kepala DKP Sumbar Desniarti, Kepala Biro Umum, Syefdinon dan Kepala Biro Adpim, Maifrizon.

Sementara, Ketua Badan Kerjasama Nagari Paninggahan, Arlis Usman juga mengeluhkan kenaikan debit air danau yang menyebabkan ratusan hektar sawah di Nagari Paninggahan terendam dan akhirnya gagal panen.

"Saya juga mohon pada pak gubernur, agar meninjau ulang kerjasama pajak pemanfaatan air permukaan oleh PLN yang belum pernah berubah. Potensi danau ini, masih banyak yang bisa dikembangkan untuk wisata dan ekonomi lainnya," ujar Arlis.

Kearifan Lokal

Mahyeldi mengapresiasi keberadaan BPKDS yang sudah didirikan sejak 2011 silam. Menurut dia, BPKDS berperan penting dalam rangka dan perlindungan Danau Singkarak.

"Perlu kajian-kajian khusus mengapa permukaan danau meningkat. Bisa jadi ada yang tersumbat. Soal sampah, jangan ada lagi yang membuang sampah ke Batang Lembang. Sampah harus dikelola, khususnya disepanjang sungai-sungai yang bermuara ke danau," kata Mahyeldi.

Soal alih usaha, dia menyambut baik dan jika nagari-nagari wajib, dalam rangka perlindungan Danau Singkarak, maka akan dipetakan, apa saja potensi-potensi yang ada.

"Nagari-nagari memesan, saya yakin bisa. Kuncinya kesepakatan. Danau yang ada di depan mata setiap hari kita lihat ini, bisa lestari jika kita bersama-sama menjaganya. Seperti yang dilakukan Nagari Sumpur misalnya, ada kearifan lokal untuk ikan bilih. Saya harap ni juga bisa diikuti nagari lain," tambah Mahyeldi.

Anggota DPRD Solok, Nazar Bakri mengapresiasi berbagai masukan dari gubernur dan sepakat akan pertemuan tersebut dengan masyarakat salingka danau untuk membuat kesepakatan Danau Singkarak dan optimalisasi ekonomi kreatif yang nantinya akan diusulkan kepada gubernur.

Sebelumnya, Mahyeldi melepas 15 ribu benih ikan Nilem dan Tawes untuk melestarikan sumber daya ikan di Danau Singkarak, di Nagari Saniang Baka, Kecamatan X Koto Singkarak. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar