Jemari Sakato Fasilitasi Lokakarya PRB, Nefri: Wujudkan Daerah Tangguh Bencana

Al Imran | Minggu, 24-04-2022 | 15:22 WIB | 606 klik | Kab. Pasaman Barat
<p>Jemari Sakato Fasilitasi Lokakarya PRB, Nefri: Wujudkan Daerah Tangguh Bencana<p>

Kepala BPBD Pasaman Barat, Nefri dan fasilitator dan peserta Lokakarya Pengurangan Resiko Bencana (PRB) foto bersama usai pelatihan, Rabu.

PASAMAN BARAT (22/4/2022) - Kepala BPBD Pasaman Barat, Nefri menilai, Lokakarya Pengurangan Resiko Bencana (PRB) yang digelar Jemari Sakato, sangat berarti sekali bagi masyarakat dan pemerintah.

"Kehadiran JEMARI Sakato dapat memberikan arahan untuk pemerintah daerah dan masyarakat, membentuk dan menghasilkan Kajian Risiko Bencana (KRB)," ungkap Nefri saat membuka lokakarya Kemitraan PRB Pemerintah Nagari se-Pasaman Barat, Rabu (20/4/2022).

Lokakarya ini berangkat dari fenomena gempa bumi akhir Pebruari 2022 lalu yang menimbulkan isu-isu di dalam masyarakat selain kerugian secara fisik dan materil.


Pada kondisi ini, perlunya penguatan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana berbasis nagari. Gagasan ini muncul karena daerah Pasaman Barat merupakan daerah yang banyak memiliki potensi bencana, di antaranya banjir, gempa bumi, tanah longsor dan lain-lain.

"Lokakarya ini membahas bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan daerah tangguh bencana," ungkap dia.

Lokakarya ini sebagai upaya Penguatan Masyarakat Pasaman Barat Tangguh Bencana. Kegiatan lokakarya yang berlangsung selama 2 hari diikuti lebih kurang 20 orang peserta yang berasal dari berbagai elemen.

Di antaranya; Disdikbud, DPMN, PMI, KSB, BPBD, Diskominfo, Wali nagari, Camat, MPRB Peduli, DPPKBP3A, STIE YAPPAS, dan beberapa media.

Proses lokakarya ini sendiri difasilitatori oleh seseorang yang berkompeten dan berpengalaman yaitu Budi Febriandi, salah seorang Aktivis JEMARI Sakato dan merupakan staf ahli di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP).

Kemudian, Ahmad Maulana Anshori salah seorang peneliti di Jemari Sakato dan juga seorang dosen di UIN Suska Riau dan juga aktivis di JEMARI Sakato.

Hari pertama lokakarya dipaparkan materi tentang program pemerintah daerah dalam upaya mewujudkan masyarakat tangguh bencana, peran FPRB dalam mewujudkan masyarakat tangguh bencana.

Kegiatan hari kedua, membahas APBN nagari dalam upaya mewujudkan masyarakat tangguh bencana.

Nagari atau Desa Tangguh Bencana (Destana) adalah nagari yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana serta memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan (melalui perencanaan, penganggaran, dan SDM yang baik) dengan cara beradaptasi dengan ancaman bencana melalui mitigasi yang berbasis kepada kearifan lokal.

"Masyarakat semestinya harus dibekali pengetahuan bagaimana perilaku kita menghadapi bencana sehingga kita berharap nagari-nagari yang ada di Kajai ini menjadi nagari pelopor untuk menghasilkan sebuah KRB yang utuh dimasing-masing nagari," harap Nefri.

KRB ini dapat dijadikan panduan bagi nagari dalam menyusun penganggaran untuk melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan Destana. Penganggaran tersebut tergantung kepada potensi bencana yang dihadapi nagari.

"Kita harus belajar dari semut karena semut selalu bekerja sama dalam melakukan segala sesuatu. Perencanaan yang baik dibutuhkan kolaborasi multipihak, sehingga akan melahirkan kekuatan" ujar Ahmad Maulana Anshori dalam materinya.

Beberapa hal yang dihasilkan dari pelatihan ini antara lain; terdapatnya gambaran program pemerintah nagari dalam upaya mewujudkan masyarakat tangguh bencana.

Kemudian, adanya kesepakatan langkah-langkah pemerintah nagari dalam upaya mewujudkan masyarakat tangguh bencana.

Harapannya dengan adanya lokakarya ini, memberikan pembekalan mengenai upaya penganggaran APB Nagari terhadap Destana. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar

Berita Kab. Pasaman Barat