Harga CPO Global dan Lonjakan Permintaan di Idul Fitri jadi Pemicu Inflasi Sumatera Barat

Al Imran | Selasa, 10-05-2022 | 17:15 WIB | 44 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Harga CPO Global dan Lonjakan Permintaan di Idul Fitri jadi Pemicu Inflasi Sumatera Barat<p>

Infografis.

PADANG (10/5/2022) - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat, Wahyu Purnama A mengatakan, Sumatera Barat tercatat mengalami inflasi pada April 2022. Berdasarkan Berita Resmi Statistik yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) umum di Sumatera Barat pada April 2022 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,66% (mtm), sedikit menurun dibandingkan Maret 2022 yang sebesar 0,77% (mtm).

Secara spasial, terangnya, pada April 2022 Kota Padang mengalami inflasi sebesar 0,60% (mtm), atau menurun dibandingkan realisasi Maret 2022 yang sebesar 0,72% (mtm). Berdasarkan realisasi inflasi ini, Kota Padang menduduki urutan ke-18 inflasi tertinggi dari 24 kota yang mengalami inflasi di Kawasan Sumatera, serta berada pada urutan ke-83 inflasi tertinggi dari 90 kota yang mengalami inflasi di Indonesia.

Kota Bukittinggi mengalami inflasi pada April 2022 mencapai 1,10% (mtm) atau menurun jika dibandingkan realisasi inflasi Maret 2022 yang sebesar 1,18% (mtm). Realisasi inflasi Kota Bukittinggi tercatat berada pada urutan ke-11 inflasi tertinggi dari 24 kota yang mengalami inflasi di Kawasan Sumatera, serta berada pada urutan ke-41 inflasi tertinggi dari 90 kota yang mengalami inflasi di Indonesia.


"Secara tahunan, inflasi Sumatera Barat pada April 2022 mencapai 3,93% (yoy), mengalami peningkatan dibandingkan Maret 2022 sebesar 3,24% (yoy). Sementara secara tahun berjalan (Januari s.d April 2022), inflasi Sumatera Barat mencapai 2,55% (ytd), juga meningkat dibandingkan realisasi Maret 2022 yang sebesar 1,87% (ytd)," ungkap Wahyu.

Inflasi Sumatera Barat pada April 2022 bersumber dari inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan nilai inflasi 1,10% (mtm) dan andil inflasi 0,34% (mtm). Inflasi pada kelompok ini disumbang oleh kenaikan harga pada komoditas minyak goreng, jengkol, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras dengan nilai andil inflasi sebesar 0,27%; 0,05%; 0,04%; 0,04%; 0,04% (mtm).

Inflasi pada komoditas minyak goreng tercatat didorong oleh masih tingginya harga CPO global serta adanya kenaikan permintaan pada periode menjelang HBKN Idul Fitri 1443H. Inflasi komoditas pangan lainnya yaitu jengkol, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras juga didorong oleh adanya kenaikan permintaan pada periode HBKN Idul Fitri 1443H.

Selain akibat kenaikan permintaan, pada komoditas bawang merah, inflasi juga disebabkan oleh adanya keterbatasan pasokan akibat mulai masuknya periode tanam bawang merah di beberapa wilayah sentra produksi di Sumatera Barat maupun di wilayah Pulau Jawa sebagai salah satu sentra pemasok bawang merah ke Sumatera Barat.

Kelompok lain yang memberikan sumbangan inflasi pada April 2022 yaitu kelompok transportasi dengan nilai inflasi 0,84% (mtm), andil inflasi 0,12% (mtm). Inflasi pada kelompok transportasi bersumber dari kenaikan harga komoditas mobil dengan nilai andil inflasi sebesar 0,05% (mtm).

Harga mobil mengalami peningkatan yang disebabkan oleh tidak adanya perpanjangan subsidi PPnBM bagi kriteria mobil baru non-LCGC (low cost green car) sejak April 2022, sementara terjadi penurunan presentase subsidi PPnBM pada mobil LCGC periode April -- Juni 2022 menjadi sebesar 66,67% dari yang sebelumnya sebesar 100%.

Kenaikan harga mobil juga didorong oleh kebijakan kenaikan tarif PPN sebesar 11% dari yang sebelumnya 10% sejak 1 April 2022. Sementara itu komoditas lainnya yaitu jasa pembuangan sampah yang masuk ke dalam kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lainnya turut mengalami inflasi dengan nilai andil sebesar 0,05% (mtm). Inflasi pada komoditas ini terutama dipicu oleh kenaikan tarif iuran kebersihan yang terjadi pada beberapa jasa pembuangan sampah di wilayah Kota Padang.

Di sisi lain, inflasi di Sumatera Barat lebih lanjut tertahan oleh deflasi pada komoditas cabai rawit, angkutan udara, ikan cakalang/ikan sisik, tomat, dan beras dengan andil deflasi masing-masing sebesar -0,32%; -0,10%; -0,02%; -0,02%; -0,02% (mtm).

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat secara aktif melakukan berbagai langkah pengendalian inflasi daerah di Sumatera Barat dalam rangka menjaga inflasi yang rendah dan terkendali di tengah momentum pemulihan ekonomi. (vri)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar