Kisah Perlawanan Siti Mangopoh Terhadap Belanda Bukanlah Mitos, Sejarawan: Dokumentasinya Banyak

Al Imran | Jumat, 20-05-2022 | 00:17 WIB | 354 klik | Kab. Agam
<p>Kisah Perlawanan Siti Mangopoh Terhadap Belanda Bukanlah Mitos, Sejarawan: Dokumentasinya Banyak<p>

Peneliti dari Pusat Studi Humaniora Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Dr Zaiyardam Zubir memaparkan materi tentang Siti Mangopoh padas peserta Forum Group Discusion (FGD) tentang Pembentukan Profil Sejarah Pahlawan Perang Manggopoh yang digelar di kantor wali nagari Manggopoh, Kamis siang.

AGAM (19/5/2022) - Perlawanan Siti Mangopoh terhadap Kolonialis Belanda, bukan lah sebuah legenda atau mitos. Belanda bahkan memiliki catatan khusus tentang perlawanan perempuan yang mengobarkan perlawanan yang dikenal sebagai Perang Belasting itu. Pers Belanda juga banyak menuliskan peristiwa perlawanan ini.

Demikian benang merah paparan yang disampaikan tiga orang peneliti dari Pusat Studi Humaniora Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Dr Lindayanti, Dr Zaiyardam Zubir dan Sutrisno pada Forum Group Discusion (FGD) tentang Pembentukan Profil Sejarah Pahlawan Perang Manggopoh yang digelar di kantor wali nagari Manggopoh, Kamis siang.

Dalam paparannya, Lindayanti menitikberatkan penjelasan tentang sosok Siti Mangopoh dari sumber sezaman serta koran dari negeri Belanda yang menceritakan peristiwa Perang Mangopoh.


"Dari telagram yang datang dari Hindia Belanda, sebuah bivak di Manggopoh, pada malam hari tanggal 11 Juli 1908 diserang. Pada pihak Belanda seorang prajurit senapan pribumi terluka berat, sementara itu pada pihak penyerang terdapat 6 orang meninggal dunia. Pada serangan pertama pada bivak tersebut tidak kurang dari 8 prajurit terluka berat, terdiri dari 4 orang prajurit pribumi dan 4 orang prajurit Eropa," ungkap Lindayanti tentang sebuah berita yang ditulis surat kabar berbahasa Belanda tentang Perang Mangopoh.

Sementara, Zaiyardam Zubir menjelaskan metode penelitian sejarah terhadap seorang tokoh di masa lalu. Zaiyardam yang merupakan alumnus Sejarah UGM mulai jenjang S1, S2 dan S3 itu, menjelaskan pendekatan penelitian yang perlu dilakukan terhadap jejak perjuangan Siti Mangopoh yakni Realitas Historis, Fakta, Kritik dan Analisis/intepretasi.

"Penulisan ini merupakan pekerjaan yang mendesak untuk dilakukan. Salah satu faktornya adalah soal usia dari informan satu generasi, tokohnya yang sudah meninggal serta berjarak dengan generasi penulis. Ini pekerjaan yang kejar mengejar dengan malaikat," terangnya.

"Untuk Siti Mangopoh, cukup banyak dokumen sejarah yang bisa dijadikan bukti kisah perjuangannya. Tinggal ditelusuri ulang untuk kemudian dijadikan sebagai sebuah dokumen tertulis," tambah Zaiyardam yang juga sejarawan itu.

Sedangkan Sutrisno menjelaskan tentang tahapan yang mesti dilalui, agar kisah heroik dari Siti Mangopoh ini kemudian diakui pemerintah Indonesia dengan menganugerahi Pahlawan Nasional.

"Daftar Riwayat Hidup, Uraian Perjuangan, Rekomendasi dari Gubernur dan bupati serta Biografi Calon Pahlawan Nasional adalah sejumlah dokumen yang mesti disiapkan. Ini semua butuh waktu dan proses yang melelahkan nantinya," ungkap Sutrisno.

HUT 114 Tahun

Sementara itu, Wali Nagari Manggopoh, R. Dt Tumbijo mengungkapkan, FGD ini merupakan rangkaian kegiatan HUT Perang Manggopoh yang ke-114 Tahun 2022.

Dalam rapat bersama unsur terkait telah diputuskan Romi Z terpilih secara musyawarah jadi Ketua Panitia HUT Perang Manggopoh dengan beranggotakan Jerindo sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Agung Syafrizal, wakil sekretaris Fitri Dara Juwita dan Bendahara Efnita Mardas.

"Kisah perjuangan Siti Mangopoh ini dengan target jadi pahlawan nasional, merupakan bagian dari visi dan misi saya sebagai wali nagari Manggopoh," ungkap Dt Tumbijo saat memberikan sambutannya. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar