Pemprov dan BNPB Rancang Penambahan Daratan di Pantai Padang hingga Pariaman

Al Imran | Selasa, 24-05-2022 | 18:06 WIB | 83 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Pemprov dan BNPB Rancang Penambahan Daratan di Pantai Padang hingga Pariaman<p>

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi memberikan arahan pada rapat koordinasi yang dihadiri bupati dan wali kota serta pimpinan OPD se-Sumatera Barat, di auditorium gubernuran, Senin. (humas)

PADANG (23/5/2022) - Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi mendukung pengembangan dan pemanfaatan potensi Geotekstil di Sumatera Barat pada sejumlah kawasan pantai dan danau yang terancam abrasi. Seperti, di kawasan Pantai Muaro, Pantai Sungai Limau, Danau Maninjau, Danau Singkarak, Pantai Jati di Mentawai dan lainnya.

Demikian disampaikan Mahyeldi saat memimpin rapat koordinasi yang dihadiri bupati dan wali kota serta pimpinan OPD se-Sumatera Barat, di auditorium gubernuran, Senin. Turut hadir juga dalam rapat tersebut, konsultan dari PT Sobo Rejo, PT Geosinindo dan PT Geoteknika Adhiyasa.

Menurut Mahyeldi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah abrasi, di antaranya penanaman mangrove dan pembangunan alat pemecah ombak di sekitar pantai. Tanaman mangrove berfungsi sebagai paru-paru dunia, tempat tinggalnya habitat flora dan fauna hingga sebagai pengendali bencana.


"Pemprov dan BNPB pusat, beberapa waktu lalu telah merancang untuk menambah daratan dan menanami tanaman mangrove di kawasan Pantai Padang hingga Pariaman. Termasuk daerah Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Pasaman Barat, Kepulauan Mentawai dan seluruh daerah yang dekat dengan kawasan perairan," ujarnya.

Mendukung hal tersebut, perwakilan konsultan dari PT Sobo Rejo, Beni mengatakan, untuk mengatasi permasalahan abrasi, penggunaan karung geotekstil sebagai konstruksi pemecah ombak sangat baik dan cocok digunakan.

Karena, lebih efektif dari segi biaya dan waktu pengerjaan daripada konstruksi konvensional. Kelebihan dari geotekstil ini, lebih tahan terhadap scourcing (gerusan ombak) terhadap konstruksi di laut, dikarenakan sifat geotekstil yang fleksibel dan faktor berat dari karung geotekstil tersebut.

"Teknologi karung geotekstil ini dipasang di bawah laut ini, mempunyai banyak manfaat. Antara lain tidak mengganggu pemandangan wisatawan, disamping itu, teknologi ini dapat mengurangi abrasi dan menciptakan reklamasi alami. Di mana garis pantai semakin bertambah dan meluas ke arah laut," tuturnya.

Selain permasalahan abrasi, Mahyeldi juga menyampaikan permasalahan pembuangan limbah yang ada di Kawasan Muaro dan Danau Maninjau.

"Untuk pengerukan sampah di dua kawasan tersebut, perlu biaya yang cukup besar dan kita masih mengupayakan limbah-limbah tersebut akan dibuang ke mana," ujarnya.

Dalam laporannya, Pemprov Sumbar sudah mengajukan dana puluhan miliar ke Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang sampai sekarang belum terlaksana. Sedangkan kedalaman Danau Maninjau dan Danau Singkarak, akibat sedimen terus berkurang.

"Sudah terjadi penurunan kedalaman danau di kawasan tersebut, karena berkurangnya sedimen, menumpuknya sampah dan permasalahan lainnya."

"Begitu juga dengan Pantai Ulakan, yang berlokasi di Padang Pariaman yang terdapat longsor dan banjir yang mengakibatkan sedimen pantai terus berkurang," tuturnya.

Oleh karena itu, perlunya pemanfaatan geosintetik, yang merupakan fasilitas penahanan limbah yang berfungsi untuk pemisahan, drainase, filtrasi dan penguatan alat geotekstil tersebut. Geosintetik ini memiliki peranan penting, dalam aplikasi penahan limbah. Karena serba guna, memiliki umur yang panjang, hemat biaya dan memiliki sifat mekanik yang baik. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar