Bukittinggi Urutan Ketiga dari 87 Kota yang Alami Inflasi di Indonesia

Al Imran | Senin, 06-06-2022 | 20:05 WIB | 323 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Bukittinggi Urutan Ketiga dari 87 Kota yang Alami Inflasi di Indonesia<p>

Infografis.

PADANG (6/6/2022) - Sumatera Barat tercatat mengalami inflasi yang meningkat pada Mei 2022. Berdasarkan Berita Resmi Statistik yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), perkembangan Indek Harga Konsumen (IHK) umum di Sumatera Barat pada Mei 2022, tercatat mengalami inflasi sebesar 1,40% (mtm), mengalami peningkatan dibandingkan realisasi April 2022 yang sebesar 0,66% (mtm).

"Secara spasial, pada Mei 2022 Kota Padang mengalami inflasi 1,38% (mtm), meningkat dibandingkan realisasi inflasi April 2022 sebesar 0,60% (mtm)," ungkap Kepala BI Sumatera Barat, Wahyu Purnama A dalam pernyataan tertulis, Senin.

Berdasarkan nilai realisasi inflasi bulanan, terang Wahyu, Kota Padang tercatat berada pada urutan ke-4 kota dengan nilai inflasi tertinggi di Kawasan Sumatera, dan berada pada urutan ke-7 inflasi tertinggi secara Nasional.


Kota Bukittinggi tercatat mengalami inflasi pada Mei 2022 yaitu sebesar 1,55% (mtm), juga mengalami peningkatan dibandingkan April 2022 yang sebesar 1,10% (mtm). Realisasi inflasi Kota Bukittinggi ini tercatat berada pada urutan ke-2 inflasi tertinggi di Kawasan Sumatera, setelah Kota Tanjung Pandan yang mengalami inflasi sebesar 2,24% (mtm).

"Secara nasional, Kota Bukittinggi berada pada urutan ke-3 inflasi tertinggi dari 87 kota yang mengalami inflasi di Indonesia," terangnya.

Secara tahunan, inflasi Mei 2022 yaitu sebesar 5,18 % (yoy), mengalami peningkatan dibandingkan April 2022 sebesar 3,93 % (yoy). Adapun secara tahun berjalan (s.d Mei 2022) inflasi Sumatera Barat tercatat 3,98% (ytd), juga meningkat dibandingkan realisasi April 2022 sebesar 2,55% (ytd).

Berdasarkan rincian kelompok inflasi, inflasi di Sumatera Barat pada Mei 2022 terutama didorong oleh inflasi pada kelompok transportasi dengan nilai inflasi sebesar 4,75% (mtm) dan andil inflasi sebesar 0,69% (mtm). Inflasi pada kelompok transportasi bersumber dari kenaikan harga komoditas angkutan udara dengan nilai andil inflasi sebesar 0,59% (mtm).

Komoditas angkutan udara mengalami inflasi yang didorong oleh peningkatan harga di tingkat maskapai sebagai bentuk penyesuaian tarif tambahan Fuel Surcharge di tengah kenaikan harga avtur. Tarif fuel surcharge ini sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan No 68 Tahun 2022 tanggal 18 April 2022.

Beleid ini tentang Biaya Tambahan (fuel surcharge), maskapai penerbangan diperbolehkan menaikkan harga tiket pesawat sebesar 10% dari tarif batas atas untuk pesawat jenis jet serta sebesar 20% dari tarif batas atas bagi pesawat jenis propeller.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi pada Mei 2022 dengan nilai inflasi mencapai 1,74% (mtm) dengan andil 0,53% (mtm). Inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada Mei 2022 terutama bersumber dari kenaikan harga komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, ikan gembolo/ikan aso-aso, daging sapi, dan bawang merah dengan nilai andil inflasi masing-masing sebesar 0,15%; 0,10%; 0,08%; 0,03%; 0,03% (mtm).

Daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami inflasi yang didorong oleh kenaikan harga pakan akibat keterbatasan pasokan jagung serta kenaikan harga soybean meal (bungkil kedelai) di tengah meningkatnya harga kedelai. Ikan gembolo/ikan aso-aso tercatat mengalami inflasi yang didorong oleh peningkatan permintaan sementara pasokan terbatas.

Kenaikan harga daging sapi tercatat dipicu oleh adanya keterbatasan pasokan di Sumatera Barat akibat penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menjangkit ternak khususnya sapi dan kerbau. Kondisi lalu lintas ternak mengalami hambatan akibat adanya proses karantina dan pemeriksaan untuk mencegah penularan PMK.

Penerapan karantina pada hewan ternak yang sakit juga berdampak pada peningkatan biaya pakan yang harus ditanggung oleh peternak. Sementara itu pada komoditas bawang merah, saat ini kenaikan harga terjadi akibat masih adanya keterbatasan pasokan akibat belum masuknya masa panen di Sumatera Barat, sementara kondisi kualitas hasil panen mengalami penurunan akibat cuaca yang kurang baik.

Di sisi lain, inflasi di Sumatera Barat pada Mei 2022 lebih lanjut tertahan oleh deflasi pada komoditas cabai merah, ikan tuna, ikan cakalang/ikan sisik, emas perhiasan, dan bawang putih dengan nilai andil masing-masing sebesar -0,02%; -0,02%; -0,01%; -0,01%; -0,01% (mtm).

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat secara aktif melakukan berbagai langkah pengendalian inflasi daerah di Sumatera Barat dalam rangka menjaga inflasi yang rendah dan terkendali di tengah momentum pemulihan ekonomi. (vri)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar