Selalu Jaga Kerahasiaan Data dan Password

Nasabahnya Terperdaya Phising, CEO BRI Padang: Kita Telah Berkoordinasi dengan Penegak Hukum

Al Imran | Jumat, 10-06-2022 | 19:44 WIB | 124 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Nasabahnya Terperdaya Phising, CEO BRI Padang: Kita Telah Berkoordinasi dengan Penegak Hukum<p>

ilustrasi.

PADANG (10/6/2022) - Regional CEO BRI Padang, Narto Laksono menyebut, telah berkoordinasi dengan penegak hukum, untuk segera menindak dan menangkap pelaku kejahatan perbankan yang menimpa sejumlah nasabahnya, dalam pekan terakhir.

Pernyataan ini disampaikan Narto Laksono terkait tindak kejahatan digital yang disebarluaskan melalui jejaring aplikasi pesan singkat, sosial media hingga surat elektronik yang menimpa salah seorang nasabahnya yang kemudian video kasusnya viral di sosial media.

"Kami telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, khususnya aparat penegak hukum untuk terus memantau, menyelidiki dan menangkap pelaku kejahatan perbankan yang telah meresahkan masyarakat dan pihak perbankan," ungkap Narto dalam pernyataan tertulis yang diterima.


Dikatakan, penipuan ini biasanya dengan mengirimkan sejumlah informasi palsu yang dimuat dalam bentuk gambar atau tautan. Tak jarang, pelaku penipuan seringkali mengatasnamakan sebagai pihak bank. Jika target termakan umpan, mereka lalu gunakan modus kejahatan yang marak saat ini, social engineering.

Dimana, social engineering ini memainkan psikologis nasabah, sehingga mendorong nasabah untuk memberikan data-data berharga, berupa informasi pribadi yang dapat digunakan untuk melakukan transaksi. Umumnya, korban diminta untuk mengonfirmasi pesan dalam sebuah link tautan, membalas pesan berupa text dengan format tertentu, atau mendownload dokumen-dokumen yang tidak dikenal.

"Contoh yang saat ini terjadi adalah adanya pesan singkat yang berisi surat dan tautan yang beredar, menyebutkan adanya perubahan biaya administrasi ATM BRI tidak lagi dikenakan Rp6.500 per transaksi, melainkan Rp150.000 per bulan dengan unlimited transaksi," ungkap Narto.

Praktek seperti ini, dipastikan Narto, dipastikan tidak benar. Dia mengatakan, BRI tidak henti-hentinya mengimbau masyarakat, khususnya yang menjadi nasabah BRI, untuk senantiasa berhati-hati dan waspada terhadap berbagai tindak penipuan kejahatan perbankan, termasuk dengan yang mengatasnamakan BRI.

Namun demikian, terdapat beberapa nasabah yang mempercayai informasi peningkatan biaya administrasi tersebut sehingga jadi korban penipuan, salah satunya adalah viralnya potongan rekaman warga yang mendatangi unit kerja BRI karena menjadi korban penipuan, akibat memberikan user, password dan OTP (One Time Password atau m-token) kepada pihak lain melalui link/tautan maupun jejaring pesan singkat.

Maraknya aksi kejahatan ini, mendorong BRI untuk terus mengajak nasabahnya dan semua pihak selalu mengedepankan kewaspadaan dalam menerima pesan dalam bentuk apapun dengan tidak terburu-buru percaya dengan ajakan pesan tersebut.

"BRI senantiasa mengimbau nasabah, agar lebih berhati-hati serta tidak menginformasikan kerahasiaan data pribadi dan data perbankan kepada orang lain atau pihak yang mengatasnamakan BRI," ungkap dia.

"Termasuk, memberikan informasi data pribadi maupun data perbankan (nomor rekening, nomor kartu, PIN, user, password, OTP dan lainnya) melalui saluran, tautan atau website dengan sumber tidak resmi dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," tambah Narto.

Narto juga mengimbau nasabah untuk menggunakan saluran resmi baik website maupun media sosial (verified) sebagai media komunikasi yang dapat dipercaya dan diakses oleh masyarakat secara luas melalui laman/akun: Website: www.bri.co.id, Instagram: @bankbri_id, Twitter: @bankbri_id, @kontakbri, @promo_BRI, Facebook: Bank BRI, Youtube: Bank BRI, Tiktok: @bankbri_id, dan Contact BRI 14017/1500017.

Waspada Teknik Phising

Hal senada disampaikan OJK Sumatera Barat, dalam permyataan tertulis yang diterima, Jumat malam. Masyarakat diminta untuk mewaspadai teknik phising yang kerap digunakan untuk mengelabui korban.

Phising merupakan salah satu modus penipuan yang dilakukan dengan menyamar antara lain sebagai karyawan, call center atau customer service lembaga jasa keuangan yang resmi untuk menjebak korban agar memberikan data pribadi, data akun, atau data finansial.

OJK meminta masyarakat mewaspadai email, pesan singkat maupun pesan melalui media sosial yang memiliki ciri-ciri phising sebagai berikut:

  • 1. Menggunakan nama akun serta foto profil yang mirip dengan akun resmi Lembaga Jasa Keuangan;
  • 2. Meminta data-data finansial konsumen yang sifatnya rahasia, seperti PIN, kata sandi, kode OTP, atau nomor kartu kredit. Lembaga Jasa Keuangan tidak pernah meminta data-data tersebut kepada nasabahnya.
  • 3. Memberi tautan atau link dan meminta konsumen untuk mengakses link tersebut, antara lain dengan tawaran diskon, untuk melihat berita, dan lainnya.
  • 4. Mendesak korban untuk cepat mengambil keputusan. Pelaku phising akan meminta korban untuk mengambil keputusan dengan cepat dengan berbagai alasan seperti adanya transaksi mencurigakan sehingga harus segera memblokir kartu, masa promo akan cepat habis, dan rayuan lainnya agar korban terperdaya atau panik sehingga tidak sempat berpikir lama.
  • OJK telah mengatur tata cara pengelolaan informasi pribadi konsumen oleh Lembaga Jasa Keuangan melalui Peraturan OJK Nomor 6/POJK.07/2022 tentang Perlindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan.

Selanjutnya, OJK mengimbau masyarakat senantiasa menjaga keamanan informasi sensitif yang dapat digunakan pelaku phising untuk membobol rekening korban. Informasi yang biasanya diincar pelaku phising antara lain:

  • 1. User name
  • 2. Kata Sandi
  • 3. Nomor Kartu Kredit atau Debit
  • 4. Kode PIN ATM atau Mobile Banking
  • 5. Kode OTP
  • 6. Kode CVV/CVC (3 angka di belakang kartu kredit)
  • 7. Masa berlaku Kartu Kredit/Debit
  • 8. Nomor KTP atau Paspor
  • 9. Tanggal Lahir
  • 10. Nama Ibu Kandung
  • 11. Informasi Pribadi Lainnya.

Apabila masyarakat menemukan akun atau pesan mencurigakan di media sosial yang mengatasnamakan Lembaga Jasa Keuangan tertentu, masyarakat diharapkan segera menghubungi layanan konsumen Lembaga Jasa Keuangan terkait untuk memverifikasi akun atau isi pesan yang diterima.

Masyarakat juga dapat menghubungi Kontak OJK melalui kontak157.ojk.go.id atau whatsapp di 081-157-157-157. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar