Siaran Digital di Sumbar, Dasrul: Masih Ada 18 Chanel Lagi yang masih Kosong

Al Imran | Jumat, 17-06-2022 | 20:32 WIB | 153 klik | Kab. Padang Pariaman
<p>Siaran Digital di Sumbar, Dasrul: Masih Ada 18 Chanel Lagi yang masih Kosong<p>

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Barat, Dasrul menyosialisasikan ASO ke Pemkab Padang Pariaman, Jumat. (humas)

PADANG (17/6/2022) - Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Barat, Dasrul mengungkapkan, Indonesia sudah sangat terlambat mengalihkan siaran televisi analog ke digital atau Analog Switch Off (ASO), dibandingkan negara-negara Asean lainnya.

Dari pada tidak sama sekali, katanya, kebijakan pemerintah menghentikan siaran analog per 2 November 2022 mendatang sebagaimana diamanahkan UU Cipta Kerja, merupakan keputusan yang harus didukung semua pihak.

"Walaupun terlambat, keputusan pemerintah untuk menghentikan siaran TV analog dan beralih ke siaran digital, memberikan ruang bagi konten kreator untuk berkreasi. Momen ini harus dimanfaatkan anak-anak muda kreatif kita," ungkap Dasrul saat sosialisasi ASO ke Pemkab Padang Pariaman, Jumat.


Dikatakan, kebijakan ASO akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian di daerah, terutama akan membawa dampak positif bagi dunia kerja di Sumatera Barat yang otomatis akan mengurangi angka pengangguran terutam bagi generasi muda kreatif.

"Peralihan ke ASO ini berkaitan erat dengan Perda RPJMD Sumbar yakni menciptakan 100.000 enterprenuer dam women enterpreneur. Tentunya, potensi ekonomi kreatif di peralihan ASO ini harus dimanfaatkan secara jeli," tegas Dasrul.

Contoh kecil dari ASO ini adalah mulai bermunculan channel atau siaran baru. Sumbar sendiri memiliki kuota 30 kanal channel baru.

"Yang baru terisi, 13 kanal siaran, masih ada kuota 18 kanal siaran lagi. Itu akan memberikan ruang bagi pengusaha-pengusaha mengisi kekosongan siaran tersebut," ungkap Dasrul.

Dan dari 30 channel tersebut nantinya, mereka diwajibkan mengalokasikan 10 persen dari waktu tayangnya untuk menampilkan siaran (konten) lokal.

Nah, kata Dasrul, siaran lokal inilah yang akan jadi peluang bagi konten kreator nantinya

"Jika hasil karya mereka bagus, tentu akan dilirik pengusaha-pengusaha media," ucap Dasrul yang sudah lama bergerak di bidang pertelevisian ini.

Menurutnya, pengusaha akan diuntungkan oleh karya para konten kreator plus kuota 10 konten lokal pun terpenuhi.

Begitu juga sebaliknya, hasil karya konten kreator dihargai dengan muncul di siaran TV Analog.

"Membuat konten lokal sebesar 10 persen dari waktu tayang itu adalah wajib. Jika tidak diindahkan, akan ada sanksi bagi pengusaha medianya," ucap Dasrul seraya menyebutkan kalau konten kreator bisa berkreasi dengan membuat video memasak, kuliner ataupun wisata.

Menurut Dasrul, era TV Digital sangat menguntungkan konten kreator. "Karyanya bisa ditampilkan di TV Digital dan media sosial pribadinya," jelas Dasrul mengajak masyarakat beralih ke TV Digital. Semua itu demi memberikan tontonan yang bersih, jernih dan canggih kepada masyarakat.

Insan Kreatif Lokal

Sementara itu, Stafsus Menkominfo, Philip Gobang mengatakan, migrasi TV digital akan membuka peluang bagi tumbuh kembangnya konten-konten lokal yang edukatif.

"Selama ini, satu frekuensi hanya bisa dipakai untuk satu kanal, melalui migrasi ke siaran digital satu frekuensi bisa dipakai untuk mentransmisikan banyak siaran. Hal itu juga berdampak positif dari migrasi TV digital adalah munculnya kanal TV Baru," jelasnya.

Tatanan baru yang muncul dalam migrasi ke TV digital ini, juga akan melahirkan insan-insan kreatif lokal. Karena, anak muda akan memiliki peluang yang besar untuk jadi konten kreator.

"Selain pertumbuhan konten lokal, migrasi TV digital juga mampu menstabilkan jaringan internet yang selama ini masih menjadi kendala di beberapa daerah, bahkan bisa memberikan dukungan yang luar biasa terhadap pengimplementasian internet 5G," tuturnya.

Tuntutan migrasi dari TV analog ke digital, sebagai bagian penting untuk terus beradaptasi dengan teknologi digital.

"Pada saat yang sama kita juga mesti mengikuti perkembangan teknologi yang terus berkembang yang sangat cepat. Maka inilah momentum untuk kita beralih atau bermigrasi dari siaran analog ke digital," jelasnya.

Meskipun dibilang agak terlambat untuk bermigrasi, terang dia, Indonesia dapat memanfaatkan momentum yang sangat tepat untuk migrasi ini. Salah satunya yakni momentum pandemi Covid19 yang kemudian ditegaskan melalui UU No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, khusus di sektor pos, telekomunikasi dan penyiaran.

"Undang-Undang Cipta Kerja telah menetapkan bahwa dua tahun setelah disahkan, kita bermigrasi dari TV analog ke TV digital. Dan dua tahun setelah UU ditetapkan itu berarti paling lambat tanggal 2 November 2022," ujarnya.

Berdasarkan amanat UU tersebut, Menteri Kominfo Johnny G. Plate juga telah menetapkan tiga tahapan migrasi dari TV analog ke TV digital.

Tahap pertama, 20 April 2022, tahap kedua paling lambat pada 25 Agustus 2022 dan tahap ketiga pada 2 November 2022.

Melalui program ASO, Kementerian Kominfo terus mendorong masyarakat di seluruh pelosok tanah air agar secara bertahap memasuki era baru teknologi digital melalui pembangunan pembangunan infrastruktur digital.

"Bersamaan dengan itu, Kementerian Kominfo bersama berbagai mitra dan pemangku kepentingan terkait baik dari pusat hingga daerah-daerah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk memberikan pemahaman apa pentingnya kita bermigrasi dari siaran analog ke digital. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar