Sumbar Peringkat Ketiga MCP dari KPK

Minimalisir Kasus Suap di Daerah, Firli: Permudah Perizinan Usaha dan Investasi

Al Imran | Selasa, 21-06-2022 | 17:59 WIB | 82 klik | Nasional
<p>Minimalisir Kasus Suap di Daerah, Firli: Permudah Perizinan Usaha dan Investasi<p>

Ketua KPK RI, Komjen Pol Firli Bahuri menyerahkan penghargaan MCP pada Gubernur Sumbar, Mayeldi pada Rapat Koordinasi Program Pemberantasan Korupsi Terintegrasi se-Provinsi Sumbar 2022, di auditorium gubernuran, Selasa. (humas)

PADANG (21/6/2022) - Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi mengungkapkan, dalam rangka meminimalisir tindak pidana korupsi di lingkungan kantor pemerintahan, Pemprov Sumbar melakukan upaya pencegahan melalui peningkatan transparansi, akuntabilitas, penyederhanaan proses kerja yang didukung dengan penggunaaan teknologi digital.

Menurut Mahyeldi, koordinasi jadi kunci keberhasilan pemberantasan korupsi, sehingga diperlukan kerjasama dan sinergi antar aparat pengawas intern pemerintah, pengawas eksternal dan institusi pemerintah lainnya serta peran aparat penegak hukum dalam upaya menghilangkan faktor-faktor yang dapat menghambat program-program pemerintah serta berdampak besar bagi kelangsungan hidup masyarakat.

"Sinergitas sangat penting dalam pencegahan korupsi. Selain itu, penguatan Aparatur Pengawas Internal Pemerintah (APIP) juga perlu dilakukan guna mencegah terjadinya tindakan korupsi," terang Mahyeldi pada Rapat Koordinasi Program Pemberantasan Korupsi Terintegrasi se-Provinsi Sumbar 2022, di auditorium gubernuran, Selasa.


Dia berharap, upaya pencegahan korupsi bukan hanya slogan semata. Dalam hal ini Pemangku kepentingan juga ikut andil dalam membangun sebuah integritas, kejujuran, dan terus membangun sistem yang bisa mendeteksi sejak dini terhadap perlakuan koruptif yang dilakukan oleh siapapun.

Selain itu, Mahyeldi mengungkapkan, pada tahun 2021 Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memperoleh nilai capaian Monitoring Center Of Prevention (MCP) sebesar 85 persen dengan nilai rata rata Provinsi Sumatera Barat sebesar 73 persen dari total nilai capaian nasional sebesar 71 persen.

Hal tersebut menjadikan Sumatera Barat meraih peringkat ketiga penghargaan dalam kategori MCP tertinggi ketiga dengan skor nilai MCP sebesar 84,93 persen tahun 2021.

Seperti diketahui, MCP merupakan pelaksanaan monitoring capaian kinerja program koordinasi dan Supervisi pencegahan korupsi (Korsupgah), yang dilaksanakan oleh KPK RI pada Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia, yang meliputi delapan area intervensi sebagai bagian reformasi birokrasi secara nasional.

Sebelumnya, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komjen Pol Firli Bahuri, menyampaikan Sumatera Barat meraih peringkat ketujuh dalam Survei Penilaian Integritas (SPI) Tahun 2021 yang digelar KPK bersama Badan Pusat Statistik (BPS).

"Provinsi Sumbar berada pada peringkat ketujuh dengan 75,44 poin. Peringkat pertama diraih oleh Yogyakarta, kedua Jawa Tengah, Ketiga Jawa Barat, Keempat Bali, Kelima Sulawesi Selatan, Keenam Gorontalo," ujar Firli.

"Capaian SPI diharapkan bukan hanya untuk mengukur individu, namun juga mengukur integritas antar individu dengan insitusi pemerintahan seperti kementerian dan lembaga," lanjutnya.

Dengan prestasi ini, Firli berharap, peran kepala daerah dalam hal upaya pemberantasan korupsi, salah satunya yaitu dengan menjamin kemudahan perizinan usaha dan investasi. Menurutnya, dengan dimudahkannya regulasi perizinan usaha, kasus penyuapan di daerah dapat diminimalisir.

"Kepala daerah memiliki peran untuk menjamin kepastian kemudahan investasi dan izin usaha. Karena semakin berbelitnya izin dan pelayanan publik, akan semakin banyak orang-orang yang memilih jalan pintas dengan suap, nyogok dan memberikan gratifikasi untuk mempermudah urusan mereka," ungkapnya.

Mendukung hal tersebut, KPK membuat forum Penyuluh Anti Korupsi (PAKSI) di Sumbar. Tugas dan fungsi PAKSI ialah menyusun rencana kegiatan edukasi dan rencana aksi penyuluhan antikorupsi, melakukan kegiatan edukasi penyuluhan antikorupsi, melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan edukasi penyuluhan antikorupsi dan melaporkan hasil kegiatan Forum Penyuluh Antikorupsi Provinsi Sumatera Barat pada gubernur melalui Sekretaris Daerah (Sekda).

"Kita ingin Indonesia memiliki budaya dan peradaban anti korupsi. Karena itu, KPK mengajak seluruh lapisan masyarakat, membangun budaya anti korupsi. Hal tersebut bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu pembentukan forum ini sangat penting," ungkapnya. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar