Talk Show BNN Sumbar, Audy: Penanganan Pemakai dan Pengedar mesti Dibedakan

Al Imran | Sabtu, 25-06-2022 | 22:29 WIB | 186 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Talk Show BNN Sumbar, Audy: Penanganan Pemakai dan Pengedar mesti Dibedakan<p>

Wagub Sumbar, Audy Joinaldy saat jadi pembicara pada talk show yang digelar Badan Narkotika Nasional (BNN) di Transmart Padang, Jumat. (humas)

PADANG (24/6/2022) - Wagub Sumbar, Audy Joinaldy menyebut, salah satu alasan masih tingginya angka penyalahgunaan narkoba, karena kurangnya edukasi dan pemahaman terhadap bahaya penyalahgunaan dan pengedaran narkoba. Oleh sebab itu, tindakan preventif diperlukan sebagai langkah pemutusan rantai pengedaran yang berimbas menghilangkan suplay dan demand.

"Tindakan preventif perlu dilakukan dalam masyarakat. Ketika orang sudah mengerti resiko dan berbahayanya narkoba, maka para pengedar pun akan kesulitan dalam mengedarkannya. Di satu sisi ini bisa menjadi pemutus rantai agar generasi muda tidak terpengaruh dan self controling yang dibekali dengan wawasan tentang bahayanya penyalahgunaan narkotika," ujar Audy di Padang, Jumat.

Hal itu dikatakan Audy, saat jadi pembicara pada talk show yang digelar Badan Narkotika Nasional (BNN) di Transmart Padang. Dalam talk show yang membahas berbagai aspek yang mempengaruhi masyarakat untuk mencoba menggunakan dan mengedarkan serta langkah-langkah preventif itu, juga menghadirkan narasumber, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, dr Lila Yanwar.


Kemudian, Direktur Ditrensnarkoba Polda Sumbar, AKBP Budi Siswono, Kasi Narkotika & Zat Adiktif Kejati Sumbar, Adhi Setyo Prabowo dan Sekretaris Ikatan Psikologi Klinis Sumbar, Neny Andriani.

Diketahui, perkembangan narkoba di Indonesia tiap tahun kian meningkat. Dibuktikan dari masih banyaknya pengedar dan pengguna yang tertangkap oleh pihak kepolisian yang kini berada di balik jeruji dan menjalani rehabilitasi.

Diperlukan langkah-langkah pencegahan terutama bagi generasi milenial yang menjadi sasaran utamanya. Termasuk di Sumatera Barat, kondisinya kian memprihatinkan. Karena itu, berbagai upaya pencegahan terus dilakukan di antaranya melalui sosialisasi seperti

Dalam satu sisi lainnya, mereka yang sudah menjadi korban tidak semestinya disatukan dengan pengedar dalam satu sel yang sama. Dikarenakan berbedanya penanganan dan kebutuhan. Para korban pemakai narkoba, membutuhkan rehabilitasi, sehingga mereka bisa berhenti mengonsumsi narkoba.

Sedangkan para pengedar membutuhkan efek jera, yang mengakibatkan mereka berhenti untuk mengedarkan ataupun menggunakan.

Setuju dengan paparan Audy, AKBP Budi Siswono menjelaskan, korban harus dibina jangan disatukan dalam satu Lapas dengan pengedar. Karena, kebutuhan penanganan yang berbeda. Korban membutuhkan rehabilitasi dan bandar membutuhkan efek jera agar berhenti.

"Sama seperti penyakit, ketika korban disatukan dengan pengedar, maka tidak menutup kemungkinan ketika mereka keluar dari rehabilitasi mereka akan menjadi pengedar karena mendapat pergaulan dari pengedar," kata AKBP Budi Siwono.

Selain pemisahan dan penanganan khusus dalam Lapas, juga perlu perhatian khusus untuk mereka yang menjadi korban atau pengguna yang telah keluar dari rehabilitasi agar bisa diterima masyarakat dan tidak terjadi kesenjangan sosial yang berlabelkan mantan narapidana.

"Yang disayangkan di sini, ketika mereka sudah keluar dari pusat rehabilitasi maupun Lapas, terjadi kesenjangan sosial dalam masyarakat yang menyebabkan mereka merasa insecure dalam menjalankan kehidupan bermasyarakatnya," ucap dr Lila Yanwar.

"Maka dari itu, kita harus beri mereka kesempatan untuk menjalankan kehidupan bermasyarakat bersama," tambahnya.

Turut hadir dalam talkshow yang digelar dalam rangka Hari Anti Narkotika Internasional Tahun 2022 ini sejumlah perwakilan kepala daerah se-Sumbar, LSM dan pemerhati. Acara talkshow ditutup dengan foto bersama dan pemberian plakat. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar