Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Butuhkan Keterlibatan Stakeholder

Al Imran | Kamis, 14-07-2022 | 18:36 WIB | 144 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Butuhkan Keterlibatan Stakeholder<p>

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumbar, Novrial foto bersama dengan peserta stakeholder meeting provinsi di Padang, Kamis. Kegiatan ini digelar Perpustakaan Nasional di Padang pada 11 hingga 14 Juli 2022. (mangindo kayo)

PADANG (14/7/2022) - Small Business Manager PT BRI Wilayah Sumatera Barat, Arsul merasakan, pustaka bukan hanya sekadar tentang membaca buku. Banyak hal yang bisa dilakukan di perpustakaan selain membaca buku.

Salah satunya, seperti yang dilakukan sejumlah lembaga dan tokoh masyarakat di perpustakaan. Di antaranya, BI Corner, Irwan Prayitno Corner dan lainnya.

"Saya akan mengusulkan BRI corner dalam rangka inklusi sosial di perpustakaan. BRI punya Lembaga Pendidikan yaitu BRI Corporate University yang juga punya program inklusi sosial, tapi lebih ke literasi keuangan," ungkap Arsul saat stakeholder meeting provinsi di Padang, Kamis.


Hal itu dikatakan Asrul saat diskusi pada kegiatan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Tahun 2022 dalam acara bertajuk stakeholder meeting provinsi di Sumatera Barat.

Acara yang diinisiasi Perpustakaan Nasional itu, berlangsung selama 4 hari, 11-14 Juli 2022. Pesertanya, berbagai pustakawan dari berbagai lembaga dan institusi.

Menurut Arsul, BRI Corporate University salah satu tujuannya adalah, agar BRI bisa bersinergi dengan program perpustakaan.

"Keuntungan perpustakaan berkerjasama dengan BRI karena memiliki visi agent of development yang mana bukan hanya soal angka, tapi juga sumber daya manusia," ungkap Arsul.

Hal senada dikatakan utusan Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat, Arina. Menurutnya, Bank Indonesia pada tahun ini punya perpustakaan baru, yang akan mendapatkan akreditasi nasional.

"Kita bisa melakukan kerjasama MoU seperti bedah buku dan lainnya. Kita bisa saling memberikan masukan dan saling berkunjung untuk sharing, terlebih perpustakaan BI masih dalam proses mendapatkan akreditasi," ungkapnya.

Agar peran BUMN/BUMD di perpustakaan makin maksimal dengan masyarakat, Duta Baca Sumatera Barat, Nofita mengatakan, jika ada bank yang mau membuat corner maka harus ada yang membedakan hal apa yang diberikan oleh masing-masing bank.

"Dengan skill berkisah, berdongeng dan menulis itu, akan bisa merangkul semua latar. Jangan sampai orang memandang Jurusan Ilmu Pustaka sebelah mata," terangnya.

"Pegiat literasi itu bisa dikaitkan atau dimanfaatkan skill-nya lebih pada kontribusi mereka seperti jadi narasumber, berdongeng atau berbagi secara nyata," tambah Nofita.

Diskusi sekaligus sharing pengalaman ini, juga dihadiri Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumbar, Novrial. Dia mengapresiasi peserta stakeholder meeting yang mendukung program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini.

Menurut Novrial, dengan adanya BI Corner, akan menjadikan industri perbankan lain tertarik untuk membuka hal serupa.

"Kita di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat, mampu mereplikasi lebih dari 10 nagari untuk program ini," tukas Novrial.

Novrial menyebut, kedepannya diperlukan regulasi yang mengatur tentang standardisasi perpustakaan. "Kita akan bentuk tim sinergi yang akan melakukan pertemuan membahas standardiasi ini di awal Agustus 2022, untuk membicarakan hal-hal selanjutnya," ungkap Novrial.

Selain itu, Novrial berharap, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat, melakukan kesepahaman bersama tentang membangun sinergi program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial 2022 dengan berbagai pihak terkait lainnya. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar

Berita Kabar Daerah