Penggunaan Ganja untuk Keperluan Medis, Darul Siska: BRIN Perlu Diberi Peran Lebih Besar

Al Imran | Senin, 18-07-2022 | 22:07 WIB | 163 klik | Nasional
<p>Penggunaan Ganja untuk Keperluan Medis, Darul Siska: BRIN Perlu Diberi Peran Lebih Besar<p>

Anggota Komisi IX DPR RI, Darul Siska.

JAKARTA (18/7/2022) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) perlu mendapat peran lebih besar, dalam konteks riset dan penelitian ganja untuk keperluan medis. Pelibatan BRIN ini memang perlu dimaksimalkan, lantaran lembaga tersebut memiliki banyak periset andal.

"Saya harap ganja bisa diteliti dengan baik, apalagi kita punya BRIN lembaga yang diharapkan meningkatkan penelitian dan memberikan manfaat bagi semua," ujar Anggota Komisi IX DPR RI, Darul Siska di Jakarta, Senin.

Pernyataan itu disampaikan Darul Siska saat ditanya wartawan di gedung parlemen. Politisi senior Partai Golkar ini menyatakan, mendukung secara pribadi upaya penelitian ganja untuk keperluan medis itu.


Menurut dia, uji klinis medis juga diperlukan, dengan melewati beberapa tahapan, sebelum diputuskan kadar atau volume kandungan manfaat dari ganja.

"Setiap peneltian kesehatan, akan ada uji klinis beberapa tahap, seperti vaksin. Lalu ditentukan kadarnya untuk kesehatan berapa, yang lebih penting adalah penelitian dilaksanakan dengan pengawasan ketat," ucap dia.

Seharusnya, kata Darul Siska, pemerintah Indonesia bisa mencontoh pemerintah Korea Selatan. Sepengetahuan dia, Negeri Ginseng itu sempat meneliti daun cemara untuk kebutuhan medis dan kesehatan.

Hasilnya, Korea Selatan mampu menemukan obat untuk menghilangkan flek di saluran darah yang berasal dari daun cemara.

Dia meyakini, seluruh yang ada di muka bumi akan ada manfaatnya masing-masing. "Sesuai yang ada di al Quran, apa yang diciptakan oleh Allah tidak mungkin tidak ada manfaatnya."

"Sumber kekayaan flora kita besar sekali, maka saya secara pribadi mendukung ganja diteliti manfaatnya untuk medis dan kesehatan," paparnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya sosialisasi dan pengawasan ketat pada saat penelitian. Jangan sampai publik salah paham dengan label legalisasi ganja secara umum, padahal yang akan dilakukan hanya sebatas penelitian kajian untuk medis.

"Jangan dilihat dari legalitas secara bebas dan disalahgunakan. Tapi ganja ini legal hanya untuk diteliti bagi keperluan medis, sebatas itu saja," tutur Darul.

Larangan tentang penggunaan ganja untuk kepentingan medis tertuang dalam UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Di dalam Pasal 6 Ayat (1) UU 35/2009 itu, mengatur penggolongan narkotika menjadi tiga bagian yakni golongan I, II dan III.

Sementara, penjelasan Pasal 6 Ayat (1) huruf a menerangkan bahwa narkotika golongan I hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.

Kemudian, pada Pasal 8 disebutkan bahwa narkotika golongan I tidak boleh dipakai untuk kepentingan kesehatan.

Merujuk lampiran UU 35/2009, ada 65 jenis narkotika golongan I. Beberapa di antaranya tanaman ganja, tanaman koka, opium, kokaina, heroin dan lainnya. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar