Sejarah Penanggalan Tahun Hijriyah, Puasa Sunah di Bulan Muharam dan Bacaan Niatnya

Al Imran | Jumat, 29-07-2022 | 19:10 WIB | 61 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Sejarah Penanggalan Tahun Hijriyah, Puasa Sunah di Bulan Muharam dan Bacaan Niatnya<p>

Masjid Raya Sumbar.

AMIRUL mukminin, Umar bin Khattab adalah kalifah yang menetapkan sistem penanggalan Hijriyah. Dia menjadikan peristiwa hijrahnya Rasulullah, Nabi Muhammad ke Kota Madinah sebagai permulaan dari kalender Islam tersebut.

Umar bin Khattab menilai, hijrah Nabi Muhammad adalah peristiwa besar dalam sejarah Islam. Karena, pada saat hijrah lah dakwah Islam menjadi semakin kuat dan gemilang—tentunya dengan pertolongan Allah.

Lantas yang menjadi pertanyaan, mengapa bulan pertama dalam kalender Hijriyah adalah Muharram, bukan Rabi'ul Awwal?


Bukankah Nabi Muhammad berhijrah dari Makkah pada bulan Shafar dan tiba di Madinah pada bulan Rabi'ul Awwal di tahun ke-14 kenabian?

Mengapa Umar bin Khattab tidak menetapkan Rabi'ul Awwal sebagai bulan pertama Hijriyah?

Dikutip dari jatim.nu.or.id, merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Al-Qur'an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018) dijelaskan, beberapa ahli menilai bahwa permulaan hijrah justru terjadi pada bulan Muharram.

Hal ini didasarkan pada Baiat Aqabah kedua, yang terjadi pada bulan Dzul Hijjah. Ketika baiat tersebut, hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah telah disepakati.

Bahkan, sebagian sahabat telah berangkat ke Madinah mendahului Nabi Muhammad.

Oleh karena itu hijrah dihitung setelah ada kebulatan tekad dan kesepakatan untuk melakukannya, bukan pada pelaksanaannya.

Sebelum ada kalender Hijriyah, umat Islam terkadang menggunakan Tahun Gajah atau peristiwa-peristiwa besar lainnya dalam sejarah peperangan orang Arab, sebagai patokan penanggalan

Penetapan kalender Hijriyah oleh Umar bin Khattab bukan tanpa perbandingan dengan sistem penanggalan yang sudah ada.

Umar pernah membandingkan sistem penanggalan Hijriyah dengan kalender Persia dan Romawi.

Hasilnya, kalender Hijriyah lebih cemerlang dari pada kalender Persia dan Romawi, karena kalender Islam telah menerjemahkan peristiwa besar dalam sejarah dunia, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad ke Kota Madinah.

Selain itu, ada 'misi khusus' dibalik Umar bin Khattab membuat kalender baru tersebut, yakni persatuan Arab di bawah naungan Islam. Demikian disebutkan Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Umar bin Khattab (2015).

Misi Umar tersebut semakin kokoh manakala pasukan umat Islam berhasil membebaskan beberapa wilayah di luar semenanjung Arab; menaklukkan beberapa daerah seperti Kisra, Kaisar, Madain dan Yerusalem—hingga mendirikan Masjidil Aqsa di samping Gereja Anastasis.

Riwayat lain menyebutkan bahwa suatu ketika Umar bin Khattab menerima beberapa surat, termasuk sepucuk surat dari Abu Musa al-Asy'ari.

Sayangnya, surat-surat tersebut tidak memiliki keterangan tanggal dan hari. Hal itu membuat Umar bin Khattab kesulitan untuk membalasnya; surat dari siapa dulu yang harus dibalas.

Dia kemudian mengumpulkan beberapa sahabat senior dan mengajaknya bermusyawarah untuk menyusun sistem penanggalan Islam.

Musyawarah tersebut menghasilkan beberapa usulan terkait dengan patokan awal kalender Islam. Ada yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi, tahun pengangkatan Nabi, tahun wafatnya Nabi, dan tahun hijrahnya Nabi.

Sunah Berpuasa

Sebagaimana diketahui bahwa dalam setahun ada 12 bulan. Hal tersebut seperti ditegaskan Allah SWT di surat At-Taubah ayat 36 berikut ini:

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS At-Taubah: 36).

Pada bulan Muharam, ada beberapa macam puasa sunah yang dianjurkan bagi umat muslim. Apa saja macam-macam puasa sunah di bulan Muharam?

Berikut ini macam-macam puasa sunah di bulan Muharam, lengkap dengan bacaan niatnya, dikutip dari laman mui.or.id, Jumat (29/7/2022).

Puasa 1 Muharam

Berpuasa di hari pertama bulan Muharam dan pada hari-hari setelahnya dianjurkan bagi setiap muslim. Hal itu sebagaimana Rasulullah Shallallahu aliahi wa sallam sabdakan dalam hadisnya:

"Barang siapa yang berpuasa di hari terakhir dari bulan Zulhijjah dan hari pertama dari bulan Muharam, maka Allah akan menjadikan (puasa)nya itu sebagai pelebur (dosa) selama 50 tahun. Dan puasa sehari di bulan Muharam sama dengan puasa 30 hari di bulan selainnya." (HR. Ad-Dailami)

Bacaan niat puasa Muharam:

"Nawaitu shouma muharramin sunnatan lillahi ta'ala."

Artinya: Aku niat berpuasa di bulan Muharam sunah karena Allah Ta'ala.

Puasa Tasu'a

Puasa Tasu'a dilaksanakan sebelum hari Asyura, yakni dilaksanakan pada tanggal 9 Muharam.

Bacaan niat puasa Tasu'a:

"Nawaitu sauma tasu'a sunnatan lillahi ta'ala."

Artinya: Aku niat berpuasa Tasu'a (hari kesembilan Muharam) sunah karena Allah Ta'ala.

Puasa Asyura

Satu di antara hari yang istimewa di bulan Muharam adalah hari Asyura, yakni pada hari ke-10. Pada tanggal tersebut dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunah Asyura.

Bacaan niat puasa Asyura:

"Nawaitu shouma 'asyura sunnatan lillahi ta'ala."

Artinya: Aku niat berpuasa 'Asyura (hari kesepuluh Muharam) sunah karena Allah Ta'ala.

Umat muslim juga bisa menunaikan puasa Senin-Kamis di bulan Muharam bagi mereka yang terbiasa mengamalkannya di bulan lain.

Meski hukumnya sunah, puasa di bulan Muharam tersebut dianjurkan untuk dikerjakan karena memiliki berbagai keutamaan.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw bersabda:

"Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharam." (HR. Muslim).

Untuk dipahami, kalender Hijriyah dikenal sebagai sistem penanggalan Islam. Memiliki 12 bulan dan sekitar 354-355 hari dalam satu tahun.

Kalender Hijriyah menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, sehingga dalam setahun jumlah harinya lebih sedikit 11 hari dari pada Masehi yang mengacu pada peredaran matahari (sekitar 365-366 hari). (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar