Alu Katentong, Kesenian Tradisi Anak Nagari Padang Laweh yang masih Bertahan

Al Imran | Senin, 01-08-2022 | 18:38 WIB | 185 klik | Kab. Tanah Datar
<p>Alu Katentong, Kesenian Tradisi Anak Nagari Padang Laweh yang masih Bertahan<p>

Tradisi Alu Katentong dimainkan bundo kanduang Nagari Padang Laweh, Kecamatan Sungai Tarab.

TANAHDATAR (1/8/2022) - Kesenian Alu Katentong masih menghiasi berbagai agenda kemasyarakatan di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Sungai Tarab. Sebagai sebuah seni tradisi, permainan Ale Katentong ini mesti terus dilestarikan.

"Salah satu momentum dimainankannya Alu Katentong yakni sebagai wujud syukur anak nagari terutama kaum ibu, dari hasil panen setiap tahunannya," ungkap salah seorang tokoh masyarakat Sungai Tarab, Ramdalel Ibrahim, Senin.

Menurut dia, permainan ini juga sebagai wujud suka cita masyarakat, atas hasil panen yang berhasil diperoleh dalam satu musim tanam.


"Semoga, pemerintah memerhatikan keberlangsungan kesenian ini. Jangan sampai hilang ditelan zaman," harap Ramdalel.

Dikutip dari laman platform kebudayaan indonesia milik Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, alat-alat yang digunakan dalam penampilan kesenian Alu Katentong yakni;

1. Alu

Sejenis galah kayu yang secara umum digunakan masyarakat Minang Sumatera Barat dalam menumbuk padi. Alu yang digunakan berukuran panjang 4-5 meter serta berdiameter 7-10 cm. Semakin panjang Alu yang digunakan semakin bagus pula bunyi nada yang dihasilkan. Biasanya jenis kayu yang digunakan untuk dimuat jadi Alu adalah kayu surian dan kayu bayua.

2.Batu Pipih

Yaitu batu alam tipis dengan permukaan datar dan licin. Warga Padang Laweh menyebutnya dengan batu nan alah mati. Batu seperti ini bermateri sangat padat dan kuat serta akan mengeluarkan suara yang keras dan nyaring apabila dipukul. Ukuran ketebalan batu pipih antara 3-7 cm, lebar 20-30 cm, serta tinggi 15-25 cm.

3. Lasuang (lesung)

Batu berbentuk lingkaran serta berlobang pada bagian tengahnya. Lasuang terbentuk secara alami, memiliki ukuran sekira 100-130 cm dan biasanya tinggal diambil serta diangkut warga Padang Laweh dari sungai.

Lasuang akan ditanam ke dalam tanah lebih kurang sedalam 10 cm. Bagian lasuang yang tinggal dipermukaan lebih kurang 10-15 cm. Pada bagian lasuang yang tetap tinggal di atas permukaan tanah inilah batu pipih biasanya disandarkan.

Semakin besar ukuran lasuang akan semakin banyak pula penampil Kesenian Alu Katentong. Pada praktiknya lobang lasuang akan diisi dengan padi sekitar 2-3 genggam orang dewasa. Pada penampilannya di perhelatan perkawinan sesungguhnya terdapat pesan nilai budaya pada bagian ini, yaitu harapan kolektif agar perempuan yang baru menikah cepat mendapatkan keturunan.

Khalayak yang menyaksikan pun mendapatkan bagiannya, yaitu bersikaplah seperti padi yang semakin berisi akan semakin runduk.

4. Lantak

Yaitu ranting pohon yang ditancapkan atau ditanam ke dalam tanah. Lantak mesti terbuat dan berasal dari ranting pohon yang kuat, biasanya ranting pohon kopi atau jambu biji. Lantak memiliki ukuran sekitar 15-20 cm dan berdiameter 3-4 cm, sekira ukuran jempol jari orang dewasa.

Penggunaan lantak juga menyiratkan nilai kearifan, yaitu supaya tercipta keluarga sekinah, mawaddah, wa rahmah.

Kesenian ini biasanya dimainkan para bundo kanduang. Mereka rata-rata sudah berumah tangga. Mereka batikuluak, babaju kuruangsulam ameh, basalempang serta basaruang kodek.

Tentunya mengundang decak kagum, para bundo kanduang tersebut terlihat fokus dan berkonsentrasi dalam memukulkan Alu pada batu pipih. Suara dan nada yang dihasilkan pun berirama indah.

Ketentuan untuk penampilan kesenian Alu Katentong, yaitu :

  • 1. Jumlah penampil mesti dalam bilangan ganjil (5, 7, 9, 11, dan 13 orang);
  • 2. Jumlah penampil menentukan besar kecilnya ukuran lasuang;
  • 3.Kepada setiap penampil sudah ditentukan jenis tokok (pukulan) yang akan dimainkan.

Beberapa judul lagu yang senantiasa didendangkan dalam kesenian Alu Katentong di antaranya, Bingkaruang Mudiak Banda, Talipuak Layua, Alang Babega dan Balalu.

Semua lagu tersebut diambil berdasarkan fenomena alam, mengikut falsafah alam takambang jadi guru.

Tentunya konsentrasi dan fokus penting dalam penampilan kesenian ini, baik dalam memukulkan Alu maupun dalam berdendang.

Jika salah seorang penampil saja bermain tidak fokus dan konsentrasi maka akan mengganggu irama penampilan secara keseluruhan.

Durasi penampilan Kesenian Alu Katentong bersifat menyesuaikan dengan kemampuan para penampilnya, sebab diperlukan energi yang tidak sedikit untuk mampu memukulkan Alu berdiameter 7-10 cm tersebut dalam waktu yang lama.

Karenanya, durasi penampilan biasanya hanya memakan waktu antara 10-15 menit.

Kesenian Alu Katentong, di samping sebagai hiburan pada upacara perhelatan perkawinan, juga ditampilkan pada upacara batagak panghulu, mendirikan atau mambukak (membongkar) rumah gadang, atau pada acara resmi resmi yang digelar oleh pemerintah.

Kebertahanannya di masa sekarang sekaligus meneguhkan identitas kolektif masyarakat Nagari Padang Laweh. Sebutlah misalnya, jika anak gadis diberi bajunjungan maka sebelum dilaksanakan akad nikah para bundo kanduang Nagari Padang Laweh akan datang menampilkan Kesenian Alu Katentong. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar