Hary Efendi Sandang Gelar Doktor, Prof Reiza: Pertahankan Urang Pandai dari yang Berwajah Digital

Al Imran | Jumat, 12-08-2022 | 18:18 WIB | 284 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Hary Efendi Sandang Gelar Doktor, Prof Reiza: Pertahankan Urang Pandai dari yang Berwajah Digital<p>

Rektor Unand, Prof Yuliandri memberikan sambutan usai sidang promosi terbuka Hary Efendi di FIB Unpad, Jumat. (mangindo kayo)

BANDUNG (12/8/2022) - Meragukan adanya peran urang pandai (orang ber-akuan) dalam kontestasi pemilihan kepala daerah, sama juga dengan mempertanyakan relasi uang, kekuasaan bahkan survei politik yang dilakukan sesuai teori akademik, jadi faktor yang menentukan kemenangan seorang calon dalam pemilihan kepala daerah di Sumatera Barat.


"Banyak kita jumpai, calon dengan kekuatan finansial tak berbatas, ternyata tetap kalah dalam arena kontestasi. Begitupun dengan tokoh yang menggunakan metode survei politik maupun relasi kekuasaan," ungkap promovendus Hary Efendi di Kampus Unpad Jatinangor, Jumat.

Menurut Hary, pemanfaatan urang pandai ini bagi calon kepala daerah, dapat dimaknai sebagai pemaksimalan usaha dalam upaya memenangi pemilihan di arena pilkada.

Karena, urang pandai di Minangkabau tak bisa dimaknai sebagai seorang dukun dengan makna yang dipahami masyarakat Indonesia secara umum.

Selain itu, budaya dan ajaran Islam di masyarakat Minangkabau juga saling beririsan, membuat makna orang pandai ini makin jauh dari makna dukun secara umum itu.

"Novelty saya dalam disertasi ini, terdapat tiga pola kuasa orang pandai dalam pemilihan calon kepala daerah. Jadi mentor spritual, penasehat politik atau tim sukses," ungkap Hary.

"Ketiga pola kuasa ini, berdasarkan hasil riset saya, terjadi baik secara sendiri-sendiri atau kombinasi," tambah Hary.

Ini merupakan benang merah dari disertasi Hary Efendi dengan judul "Supranatural dalam Kehidupan Politik Minangkabau; Studi tentang Relasi Kuasa Urang Pandai dengan Calon Kepala Daerah pada Pemilihan Kepala Daerah di Sumatera Barat (1977-2015)."

Disertasi ini diujikan dalam sidang terbuka pada promosi doktor program studi Ilmu Sastra konsenstrasi Ilmu Sejarah FIB Unpad, Jumat.

Dalam paparannya, Hary membatasi defenisi orang pandai ini pada terminologi guru tarekat (ahli agama) dan orang ber-akuan (memiliki kekuatan gaib yang berkhodom).

Usai pemaparan serta tanya jawab dari masing-masing promotor dan dua co-promotor, guru besar dan tiga penyanggah (oponen ahli), pimpinan sidang menyatakan Hari Efendi lulus dengan predikat sangat memuaskan.

"Dengan ini, saya nyatakan bahwa Hary Efendi merupakan Doktor ke-259 sejak berubah dari Fakultas Sastra jadi FIB," ungkap pimpinan sidang yang juga dekan FIB.

Tiga promotor Hary Efendi yakni Prof Reiza D Dienaputra (promotor utama) serta dua co-promotor, Prof Kunto Sufianto dan Prof Gusti Asnan.

Represetasi guru besar, Prof Opan S Suwartapraja dan 3 oponen ahli, Dr Mumuh Muhsin Z, Dr Raden Muhammad Mulyadi dan Dr Awaludin Nugraha.

Sidang promosi doktor Hary Efendi ini juga dihadiri Rektor Unand, Prof Yuliandri. Kemudian, Hakim Mahkamah Konstitusi, Prof Saldi Isra, Prof Reni Mayerni (Deputi Bidang Strategis Lemhanas RI), Darul Siska (anggota DPR RI) dan Andrinof Chaniago (Wakomut Bank Mandiri).

Juga hadir sejumlah guru besar Unand, Prof Helmi, Prof Hery serta Dr Zaiyardam Zubir, Dr Zulqayim dan lainnya.

Selain itu, hadir juga sejumlah penggiat sosial kemasyarakatan seperti KH Akhmad Khambali, Khairul Fahmi, Muhammad Taufik, Feri Amsari, Charles Simabura.

Sahabat dan rekan dari berbagai profesi juga hadir mulai dari politisi, aktivis NGO, komisioner KPU dan Bawaslu dari berbagai daerah.

Pada pidato penutupannya jelang mengumumkan Hary berhak menyandang gelar doktor, Prof Reiza menanyakan tiga hal penting.

Yakni, apa ada orang pandai yang dihadirkan di sidang promosi ini. "Ada Prof Reiza, jawab Hary sembari mengedarkan pandangannya ke ruangan sidang.

Kemudian, karangan bunga untuk Hary ini, merupakan karangan bunga terbanyak sejak yang pernah ada, lebih dari 40 buah.

"Ini menandakan saudara Hary sudah jadi orang pintar berijazah," kata Prof Reiza disambut gelak tawa undangan.

Prof Reiza juga bertanya, apakah menggunakan jasa orang pandai di sidang promosi ini. Karena, Prof Reiza merasakan, ini ujian paling sumringah sepanjang yang diikutinya.

"Saya dibesarkan dari tradisi syatariah. Banyak doa-doa yang diberikan kakek saya dulu yang bersumber dari ayat al Quran. Jujur, sebelum sidang ini, saya membacakan doa-doa itu," ungkap Hary yang kembali disambut gelak tawa undangan.

"Dengan telah menyandang doktor, saya berharap, Dr Hary dapat mempertahankan tradisi urang pandai dari urang pandai berwajah digital dalam wujud lembaga survei," harap Prof Reiza. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar