Wacana Suharso Mundur dari Ketum PPP Mengapung di Dialog Ruang Politik

Al Imran | Selasa, 16-08-2022 | 14:44 WIB | 310 klik | Nasional
<p>Wacana Suharso Mundur dari Ketum PPP Mengapung di Dialog Ruang Politik<p>

Presenter televisi nasional Tasya Felder, memandu dialog dengan narasumber Ray Rangkuti (pendiri Lingkar Madani), Djayadi Hanan (LSI) dan politisi senior PPP, Rusli Effendi, yang digelar ruangpolitik.com dan PJS, secara hybrid, Selasa. (humas)

JAKARTA (16/8/2022) - Salah satu solusi untuk menaikkan elektabilitas Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dengan mundurnya Ketua Umum PPP, Suharso Monoarfa. Faktor masalah rumah tangga, jadi salah satu alasan kuat lainnya, untuk mendesak Kepala Bapenas ini mundur dari kursi ketua umum partai berlambangkan Kabah itu.

Selain itu, elektabilitas Suharso Monoarfa juga paling rendah di antara ketua umum partai yang ada di tanah air. Sementara, figur Ketua Umum adalah tokoh sentral bagi partai yang dapat jadi daya tarik bagi masyarakat pemilihnya.

"Tingkat elektabilitasnya Ketum PPP saat ini paling rendah dibandingkan dengan Ketum parpol lainnya," ungkap Peneliti dari LSI, Djayadi Hanan dalam diskusi bertajuk 'Menakar Peluang PPP Menembus Parlemen pada Pemilu 2024,' di Jakarta yang ditayangkan secara virtual, Selasa.


Diskusi ini diinisiasi ruangpolitik.com dengan menggandeng Perhimpunan Jurnalis Siber (PJS) Indonesia.

Dia mengungkapkan, penting bagi PPP untuk dapat mengevaluasi figur Ketua Umum PPP saat ini (Suharso Monoarfa-red)

Senada dengan Djayadi Hanan, Ray Rangkuti juga mengatakan, di tengah masyarakat Indonesia itu, figur yang memiliki elektabilitas yang tinggi, adi salah satu faktor penting untuk menarik suara dari masyarakat pemilih.

"Nah, saya dengar ada isu yang beredar bahwa Ketum PPP ini dikenal karena masalah rumah tangganya, ini yang menjadi masalah besar menurut saya untuk PPP," ujar Pendiri Lingkar Madani ini.

Menurutnya jika isu ini tidak segera diklarifikasi ke publik, maka akan PPP dihadapkan dua masalah.

Pertama, masyarakat perempuan yang sangat sensitif dengan isu rumah tangga dan kaum milenial yang juga punya atensi besar terhadap kehidupan publik figur.

"Padahal, kaum perempuan dan milenial saat ini menjadi masyarakat pemilih yang memiliki suara yang sangat besar," jelasnya.

Ray mengatakan, pejabat-pejabat publik sekarang itu kehidupan pribadinya sudah menjadi domain atau konsumsi publik juga.

Sehingga, penting bagi PPP untuk segera mengklarifikasi isu negatif tentang ketua umumnya.

"Atau untuk amannya, Ketum PPP saat ini mundur saja dari jabatan Ketua Umum," saran Ray.

Pada kesempatan yang sama, politisi PPP, Rusli Effendi tidak dapat membantah kabar tentang masalah rumah tangga yang dialami oleh Ketua Umum PPP tersebut.

"Tentu isu yang muncul di dalam diskusi ini tentang masalah personal ketua umum kami, akan jadi salah satu isu yang akan kami perhatikan dan bicarakan secara internal," ujar Rusli Effendi.

Dialog ini dipandu presenter televisi nasional Tasya Felder, menghadirkan narasumber Ray Rangkuti (pendiri Lingkar Madani), Djayadi Hanan (LSI) dan politisi senior PPP, Rusli Effendi. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar