Delima, Buah-buahan dari Sorga yang ada di Bumi, Simak Segudang Manfaatnya bagi Kesehatan

Al Imran | Selasa, 16-08-2022 | 19:33 WIB | 687 klik | Nasional
<p>Delima, Buah-buahan dari Sorga yang ada di Bumi, Simak Segudang Manfaatnya bagi Kesehatan<p>

Buah Delima

RASULULLAH SAW memuji delima sebagai penyembuh bagi tubuh. Dalam surah al-An'am ayat ke-99, Allah menyebut buah delima setelah zaitun, anggur dan kurma.

Allah berpesan bahwa "Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman." Demikian pula pada surat al-An'am ayat 141. Dalam surat ini, dapat dimaknai bahwa buah delima memiliki keterkaitan antara surga dan anugerah Allah kepada hambanya.

Bahkan, dalam surah ar-Rahman ayat 68, Allah mengungkapkan bahwa delima adalah salah satu dari buah-buahan di surga. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" begitu bunyi peringatan Allah berkali-kali dalam surah yang teramat indah itu.


Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, kurma dan delima adalah buah yang lebih unggul dibandingkan lainnya. Tradisi kedokteran Islam dulu juga memanfaatkan delima untuk pengobatan, seperti yang dilakukan ar-Razi (854--925) dan Ibnu Sina (980-1037).

Penamaan Delima

Terkait penamaan, dapat ditelusuri dalam sejarah dengan memerhatikan terminologi ilmiahnya, Punica granatum. Punica merupakan istilah yang dipakai bangsa Romawi Kuno untuk menyebut penduduk Fenisia (bahasa Inggris: Phoenicia) di pesisir Afrika Utara.

Fenisia memiliki ibu kota Kartago, kini wilayah negara Tunisia. Masyarakat Roma menyebut delima sebagai malum punicum, "apel Punic", karena buah itu didatangkan dari sana.

Dalam keilmuan taksonomi, genus punica terbilang istimewa karena hanya terdiri atas dua spesies, yakni protopunica dan delima.

Protopunica adalah leluhur genus tersebut dan tergolong endemik karena hanya ditemukan di Pulau Saqatra, sekitar Yaman Selatan.

Adapun istilah granatum merupakan bentuk jamak dari kata bahasa Latin granum yang artinya 'biji-bijian' (bahasa Inggris: grain).

Ed Stover dan Eric W Mercuredalam artikelnya, "The Pomegranate: A New Look at the Fruit of Paradise," mencontohkan, masyarakat Amerika Serikat sampai kini masih menyebut delima sebagai seedy apple, 'apel yang berbiji banyak.'

Dalam bahasa Prancis, terjemahan delima adalah grenade, sehingga tidak beda daripada granat tangan (bahasa Inggris: grenade). Buah tersebut memang menyerupai bentuk granat.

Dalam bahasa Spanyol, delima adalah granada, yang mengingatkan kita pada salah satu pusat kosmopolitan di Andalusia, kota Granada. Di sanalah lokasi istana Alhambra, yang tercatat sebagai situs warisan dunia versi UNESCO.

Penyebutan delima dalam bahasa Spanyol mungkin karena Granada sebagai sentra perniagaan dibanjiri pelbagai komoditas, termasuk buah tersebut.

Sebuah teori juga menyebut bahwa buah yang kaya serat ini berasal dari daerah Persia (Iran) ribuan tahun silam. Di sana, namanya lebih dikenal sebagai anar. Bangsa Iran telah membuat kebun-kebun delima setidak-tidaknya sejak 3.000 tahun SM.

Manfaat Delima

Salah satu manfaat delima adalah, memiliki antioksidan yang tinggi. Jenis antioksidan yang terkandung di dalamnya adalah flavonoid.

Antioksidan tersebut dapat efektif menangkal berbagai radikal kanker. Bukan hanya itu, mengonsumsi delima secara rutin, juga bisa membantu menjaga keseimbangan kalium dan natrium dalam tubuh.

Flavonoid adalah salah satu jenis antioksidan yang banyak terkandung dalam cokelat. Antioksidan itu sendiri bekerja menangkal radikal bebas dalam tubuh.

Radikal bebas ditengarai sebagai penyebab berbagai penyakit kronis. Penasaran apa saja manfaat flavonoid, dan dari mana saja Anda bisa mendapatkan antioksidan ini?

Berikut ulasannya.

Segudang manfaat flavonoid untuk kesehatan tubuh

Seperti yang telah dijelaskan di atas, flavonoid adalah bagian dari antioksidan yang ditemukan dalam makanan. Jika terus dibiarkan menumpuk, radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan pada DNA dan sel-sel yang sehat sehingga menyebabkan gangguan keseimbangan dalam tubuh.

Kerusakan inilah yang kemudian dapat memicu timbulnya berbagai penyakit. Mulai dari radang sendi, penyakit jantung, aterosklerosis, stroke, hipertensi, tukak lambung, penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, kanker, sampai menyebabkan penuaan dini. Antioksidan bekerja menetralisir sifat perusak radikal bebas sehingga dapat mencegah penyakit-penyakit tersebut.

Selain beragam keuntungan di atas, ada segudang manfaat flavonoid lain yang sama luar biasanya untuk tubuh Anda, di antaranya:

Membantu tubuh menyerap vitamin C dengan lebih baik

Membantu mencegah dan/atau mengobati alergi, infeksi virus, arthritis, dan kondisi peradangan tertentu.

Dapat memperbaiki sel yang rusak akibat radikal bebas.

Mampu meningkatkan gejolak suasana hati yang diakibatkan oleh gangguan mood hingga depresi.

Menurunkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular, namun hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Lebih baik mengonsumsi flavonoid dari makanan segar daripada lewat suplemen obat

Manfaat flavonoid akan lebih besar pengaruhnya jika dikonsumsi dalam bentuk alaminya, bukan dikonsumsi dalam bentuk suplemen. Belum ada cukup bukti medis kuat yang dapat mendukung bahwa suplemen flavonoid benar bermanfaat.

Terlebih, dosis flavonoid yang lumayan tinggi pada kebanyakan produk suplemen justru dapat membahayakan kesehatan, terutama bagi ibu hamil dan menyusui serta anak-anak.

Kadar flavonoid yang di luar batas wajar dapat masuk ke dalam plasenta yang dapat berbalik berdampak negatif pada tumbuh kembang janin dalam kandungan.

Agar lebih amannya, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mencoba-coba konsumsi suplemen apapun selama kehamilan.

Meski begitu, terlepas dari bentuk flavonoid apa yang Anda dapatkan (entah bentuk alami dari makanan atau dari suplemen), Anda tetap perlu berhati-hati ketika sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Senyawa flavonoid dapat berinteraksi dengan beberapa obat. Misalnya saja, kandungan flavonoid naringenin dalam jeruk bali terbukti dapat mengganggu kinerja obat.

Direkomendasikan Tradisi Kedokteran Islam, Cina, Afrika, India

Manfaat pengobatan buah ini tersebar luas ke berbagai penjuru dunia, seperti di timur, mediterania, dan Afrika. Delima tercatat dalam obat-obatan yang menyembuhkan 15 penyakit (Levin GM: 2006).

Di antara khasiat buah ini adalah menjaga kesehatan jantung dan usus, mencegah cacing pita, dan menyembuhkan disentri. Ibnu Sina menyebut kegunaan lainnya dari delima, yakni kulit buahnya mampu mengusir serangga.

Di alam, burung-burung kerap memakai kulit delima sebagai unsur penyusun sarangnya. Alhasil, hama pengganggu tidak menjangkiti di dekat telur-telur mereka.

Delima juga berfaedah untuk kosmetik. Mengutip buku Mukjizat Kedokteran Nabi, kulit delima yang telah dihangatkan dalam air mendidih dapat dicampur dengan ekstrak pohon inai.

Campuran itu lantas ditumbuk hingga halus, kemudian dibalurkan pada rambut. Efeknya, rambut akan tampak segar, berkilau, serta mencegah kerontokan.

Manfaat lainnya dari kulit delima untuk membunuh cacing pita di usus. Caranya dengan direbus, lalu minumlah air hangat dari hasil rebusan itu. Cendekiawan besar Muslim, Ibnu Sina, termasuk yang menyarankan metode tersebut.

Berbicara soal nutrisi, setiap buah delima mengandung 10 persen zat pemanis, satu persen asam limun, 80 persen air, dan tiga persen protein. Di dalamnya juga terdapat kandungan vitamin A, B, C, dan D serta kadar besi, kalsium, potasium, dan fosfor.

Bulir-bulir delima juga menjadi sumber yang baik untuk kebutuhan serat harian. Bagi mereka yang ingin diet, mengonsumsi buah ini meski hanya dalam porsi kecil, sudah membantu mengurangi keinginan makan karena rasa kenyang yang awet.

Untuk menjaga daya tahan tubuh, memakan buah delima juga menjadi opsi yang disarankan. Buah ini bahkan digelari superfood lantaran mengandung antioksidan yang amat baik untuk mendukung kekebalan tubuh dari bibit-bibit penyakit.

Delima diketahui mampu memenuhi asupan 40 persen kebutuhan vitamin C harian. Khasiatnya juga untuk menurunkan kadar kolestrol, melancarkan aliran darah, sehingga mencegah serangan jantung.

Merujuk pada buku Health Secret of Delima, buah delima yang dihaluskan dapat menjadi ramuan penghalus kulit. Bila disajikan dalam bentuk jus siap minum, delima berkhasiat meredakan radang tenggorokan.

Dengan rutin mengonsumsi satu gelas jus delima setiap hari, seseorang akan memeroleh asupan senyawa antioksidan polifenol 100 miligram.

Manfaatnya mengikis sel-sel kanker serta memulihkan dinding arteri agar tidak mengalami pengerasan. Ingat juga, biji delima sangat dianjurkan untuk dikonsumsi.

Bagi kaum hawa, bukan tanpa alasan delima dikaitkan dengan femininitas. Penelitian University of California, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa buah tersebut memiliki efek ekstrogenik.

Artinya, kandungan delima dinilai bisa menangkal gangguan-gangguan menopause serta mencegah timbulnya sel-sel kanker pada organ reproduksi.

Antioksidan delima diketahui khasiatnya lebih tinggi daripada teh hijau. Jus delima juga bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan sel kanker prostat.

Dalam ilmu kedokteran Timur, delima sudah lama dipakai untuk menyembuhkan sakit cacingan atau penawar racun.

Khasiatnya untuk membersihkan sistem pencernaan sudah diketahui dan diterapkan oleh tabib-tabib tradisional Cina. Demikian pula bangsa Arab, India, dan Afrika Utara.

Barulah ketika masa Perang Salib, orang-orang Eropa mulai "menemukan kembali" khasiat delima, buah yang sudah melegenda sejak era Yunani Kuno.

Pakar pengobatan Yunani dari abad pertama Masehi, Dioscorides, telah menemukan efek dari delima yang menyembuhkan penderita sakit cacingan.

Tidak hanya buahnya. Kulit pohon delima juga menjadi sumber ramuan penyembuh luka luar. Bunganya dipakai sebagai pewarna tekstil alami. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar