Soal 'Amplop Kyai,' Suharso Monoarfa: Saya Minta Maaf

Al Imran | Sabtu, 20-08-2022 | 09:32 WIB | 700 klik | Nasional
<p>Soal 'Amplop Kyai,' Suharso Monoarfa: Saya Minta Maaf<p>

Ketua Umum (Ketum) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa

BOGOR (19/8/2022) - Tentang gaduhnya "amplop kiai," Ketua Umum (Ketum) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa meminta maaf.

Hal ini disampaikannya di depan kader PPP saat memberikan sambutan pada Sekolah Politik PPP di Bogor, Jumat.

Dia menyesalkan, ada pihak yang sengaja memotong pidato dirinya, sehingga menyebabkan pernyataan dirinya jadi di luar konteks dan membentuk opini, sehingga menimbulkan kegaduhan.


"Sambutan saya itu tidaklah berdiri sendiri, melainkan merespon atas apa yang disampaikan Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron yang waktu itu saya panggil dengan sebutan Kiai," ungkap Soharso.

Mengapa ada respon? Tujuannya, agar sambutan dirimya secara esensial berkesinambungan dengan yang disampaikan Nurul Ghufron.

"Saya juga berusaha menyambungkan (pidatonya-red) dengan yang dipersentasikan oleh Deputi Pendidikan dan Peran Masyarakat, Wawan Wardian," kata Suharso.

Pernyataan yang beredar itu, terang dia, merupakan respon dirinya terhadap sambutan yang disampaikan oleh Nurul Ghufron.

Beliau mengingatkan bahwa seseorang mengikrarkan diri untuk berjuang dengan partai mereka harusnya ingat bahwa posisinya adalah seorang abdun dan khalifah yang kelak harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Allah SWT di yaumul akhir.

Sedangkan Wawan Warian menguraikan, pentingnya edukasi anti korupsi dengan tujuan menumbuh kembangkan budaya anti korupsi, agar masyarakat tidak lagi membenarkan hal yang biasa, kecuali itu benar.

Melainkan membiasakan hal-hal yang benar, jadi bukan membenarkan hal-hal biasa melainkan membiasakan hal-hal yang benar.

Suharso ingin mengulangi dan menggaris bawahi bahwa pesan yang disampaikan itu penting, dirinya sungguh tergugah oleh imbauan KPK, agar para peserta yang mengikuti PCB dapat meneladani pesan yang disampaikan tersebut.

"Saya sungguh tergugah oleh imbauan KPK, agar kita tahu diri dan saya memulai sambutan dengan sedikit merefleksi atas apa yang saya alami sebagai sebuah ilustrasi," terangnya.

"Sama sekali tidak ada maksud untuk menyalahkan siapapun saya hanya mengilustrisasikan," ucap Suharso.

Pada saat pidato, dirinya sedikit terbawa emosi untuk mencoba tahu diri. Menurutnya, ilustrasi yang disampaikan tersebut merupakan kekhilafan dan tidak pantas untuk diungkapkan di depan publik.

"Saya akui ilustrasi dalam sambutan itu sebuah kekhilafan dan tidak pantas saya ungkapkan, mestinya ada ilustrasi atau cara lain bukan mengungkapkan ilustrasi yang justru mengundang penafsiran yang keliru apalagi dipotong-potong," kata Suharso.

"Kekeliruan terhadap pemahaman yang saya sampaikan di KPK kemarin, anggap saja saya yang awam ini salah mengambil contoh untuk diilustrasikan, karena itu lebih mudah daripada menyimpulkan kesalahpahaman yang berkepanjangan," terangnya.

"Saya mengaku itu sebuah kesalahan, saya memohon maaf dan meminta untuk dibukan pintu maaf seluas-luasnya," ucap Suharso. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar