Syuir Syam Pesimistis Target Prevalensi Stunting Tercapai, Ini Indikatornya

Al Imran | Selasa, 23-08-2022 | 10:36 WIB | 189 klik | Nasional
<p>Syuir Syam Pesimistis Target Prevalensi Stunting Tercapai, Ini Indikatornya<p>

Anggota Komisi IX DPR RI, Suir Syam memimpin audiensi Komisi IX DPR RI dengan Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Senin. (humas)

JAKARTA (22/8/2022) - Target prevalensi

stunting

sebesar 14 persen yang telah ditetapkan Presiden Joko Widodo akan tercapai di tahun 2024, sepanjang angka perokok di Indonesia masih tinggi.

Sikap pesimistis itu ditegaskan Anggota Komisi IX DPR RI Suir Syam, saat memimpin audiensi Komisi IX DPR RI dengan Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Senin.


"Dengan waktu sekitar dua tahun lagi, segala upaya dan anggaran dikerahkan untuk menurunkan

stunting

, namun sepanjang masyarakat dibebaskan untuk merokok, saya yakin berbagai upaya yang dilakukan tidak akan berhasil dalam mengejar prevalensi

stunting," ungkap politisi Partai Gerindra itu.

"Presiden itu menargetkan

stunting

di Indonesia turun 14 persen tahun 2024, dua tahun lagi. Berapa banyak bapak-bapak yang merokok di rumah, istrinya hamil. Itu pasti anaknya cenderung akan mengalami stunting," tambah Suir Syam yang juga seorang dokter itu.

"Kemudian Indonesia Emas 2045 itu jangan-jangan menjadi Indonesia cemas, karena stuntingnya bertambah besar karena rokok ini," tukas Suir Syam yang juga mantan wali kota Padang Panjang, Sumbar dua periode itu.

Diketahui, saat menjadi wali kota Padang Panjang, Suir Syam melahirkan Perda Pelarangan Merokok. Kemudian, juga melahirkan beleid, pelarangan iklan rokok di kota yang dipimpinnya itu.

Pada audiensi tersebut, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau, Hasbullah Thabrany menampilkan data dari Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) yang menunjukan bahwa anak-anak dari orang tua perokok rata-rata mengalami pertumbuhan berat badan lebih ringan 1,5 kg dan pertumbuhan tinggi badan lebih rendah 0,34 cm lebih rendah dari anak yang orang tuanya tidak merokok.

Selain itu dikemukakan juga bahwa kemungkinan

stunting

anak perokok lebih besar 5,5 persen.

Hasbullah juga mengaitkan kebiasaan merokok pada kelas menengah-bawah. Menurutnya, masih banyak orang yang memilih mengeluarkan uang untuk membeli rokok daripada membeli lauk pauk dan beras.

Hal tersebut selaras dengan data Komnas Pengendalian Tembakau yang memaparkan peningkatan pengeluaran rokok yang dibarengi penurunan pengeluaran makanan sumber protein dan karbohidrat akan memiliki dampak jangka panjang terhadap kondisi

stunting

anak.

(kyo/rls)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar