Keynote Speaker di Workshop Kompetisi Kampus Merdeka Untad, Audy Joinaldy Bicarakan Ini

Al Imran | Sabtu, 03-09-2022 | 20:23 WIB | 191 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Keynote Speaker di Workshop Kompetisi Kampus Merdeka Untad, Audy Joinaldy Bicarakan Ini<p>

Wagub Sumbar, Audy Joinaldy menerima cenderamata dari Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Untad, Dr Sagaf usai jadi keynoter speaker pada Workshop Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) yang digelar Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako (Fapetkan Untad), Kamis.

PADANG (3/9/2022) - Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy menilai, ruang bagi industri peternakan di Indonesia masih terbuka luas.

Peluang ini terus bertumbuh, terang dia, disebabkan oleh faktor-faktor yang meliputi pertumbuhan populasi yang teratur, pendapatan kelas menengah yang terus meningkat, urbanisasi, hingga harga daging yang cukup terjangkau dibandingkan jenis pangan lainnya.

"Saat ini, pertumbuhan lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding dengan banyaknya lulusan pendidikan tinggi. Sehingga, banyak pekerjaan abad 20 yang perlahan-lahan digantikan oleh pekerjaan baru yang berbasis teknologi 4.0," ujar Audy di Palu, Kamis.


Pernyataan itu disampaikan Audy, saat jadi keynote speaker dalam Workshop Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM) yang digelar Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako (Fapetkan Untad).

Workshop ini digelar di Ballroom Hotel Santika Palu, Kamis itu, dihadiri lebih dari 150 peserta mahasiswa hingga akdemisi Untad. Workshop ini mengambil tema "Entrepreneurship Peternakan Milenial."

Workshop ini dibuka Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Untad, Dr Sagaf itu, Audy yang juga akademisi Sekolah Bisnis IPB & Fakultas Peternakan UGM, memaparkan edukasi dunia kewirausahaan di era 4.0, serta kaitannya dengan kondisi peternakan di Indonesia.

"Wirausaha melalui proses mengidentifikasi dan pengembangan visi lah yang akan mampu menjawab tantangan era 4.0," ungkap Audy.

Dikatakan, visi bisa berupa ide inovatif, peluang serta cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Sementara, hasil akhir dari proses itu adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.

Dalam dunia peternakan di Indonesia, Audy mengatakan, nilai perputaran uang mencapai Rp350 Triliun, dengan PDB dari sektor Peternakan sebesar 1.57% dan menyerap tenaga kerja sebesar 3.840.000.

Sedangkan tantangan di dunia peternakan saat ini, meliputi globalisasi, keterbatasan sumber daya, kesejahteraan hewan, perubahan iklim, kelebihan pasokan yang menimbulkan ketidakstabilan harga, penyakit menular antar hewan kualitas pangan serta standar managemen perkandangan dan minimnya fasilitas pemrosesan.

"Dengan pesatnya perkembangan teknologi, membantu menjawab tantangan tersebut ditambah besarnya peluang pertumbuhan industri peternakan, kawasan pedesaan sebagai tumpuan ekonomi akan semakin jauh berkembang," tutur dia.

Usai pemberian materi, acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antar pemateri dan peserta kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara Dr Rusdin selaku Dekan Fapetkan dengan pemateri. (kyo/rls)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar