Pemerintah Naikan Harga Pertalite, Solar, Pertamax, Politisi PKS: Innalilahi Wa Inna ilaihi Roojiuun

Al Imran | Sabtu, 03-09-2022 | 20:53 WIB | 504 klik | Nasional
<p>Pemerintah Naikan Harga Pertalite, Solar, Pertamax, Politisi PKS: Innalilahi Wa Inna ilaihi Roojiuun<p>

Anggota Komisi VII DPR RI, Diah Nurwitasari.

JAKARTA (3/9/2022) - Anggota Komisi VII DPR RI, Rofik Hananto menilai, kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), sebagai bentuk ketidakpekaan pemerintah terhadap kesulitan rakyat.

Ia sangat menyayangkan keputusan pemerintah ini, disaat rakyat sedang membangun kembali ekonominya yang sempat terpuruk dua tahun terakhir akibat Covid-19.

"Pemerintah tidak peka dengan kesulitan rakyat. Kenaikan harga BBM bersubsidi akan sangat dirasakan dampaknya oleh masyarakat miskin," keluh Rofik, merespon pengumuman kenaikan BBM terhitung pukul 14.30 WIB hari ini.


Baca Juga: Membubung Naik! Ini Harga Terbaru Pertalite, Solar dan Pertamax per 3 September 2022

Dijelaskan Rofik, kenaikan BBM jelas akan berimbas pada naiknya biaya transportasi yang kemudian berlanjut pada kenaikan harga-harga barang. Pendapatan rakyat akan tergerus, karena daya beli menurun.

"Ada banyak petani, nelayan, UMKM, sopir angkutan, dan sektor lain yang sangat terpukul dengan kenaikan BBM bersubsidi ini. Bantuan BLT yang dijanjikan, tidak sebanding bila dibandingkan dengan dampak kenaikan BBM bersubsidi. Ini tidak menyelesaikan masalah, tidak efektif untuk menjaga daya beli masyarakat," tandas Rofik.

Rofik melihat, pemerintah selalu berargumen bahwa BBM bersubsidi lebih banyak dinikmati orang kaya. Seharusnya, pemerintah segera memperbaiki aturan penyaluran BBM subsidi agar lebih tepat sasaran. Bukan mencari jalan pintas menaikkan BBM bersubsidi.

Politisi fraksi PKS ini, juga mengkritisi sikap inkonsistensi Presiden Jokowi. Saat masih menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, Jokowi mengkritik kebijakan BLT era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas kompensasi kenaikan BBM subsidi pada Juni 2013 yang dinilai tidak mendidik rakyat.

"Presiden Jokowi tidak konsisten. Dulu mengatakan BLT tidak mendidik rakyat, sekarang justru menerapkannya," ungkap Rofik.

Hal senada dikatakan sejawatnya, Diah Nurwitasari. Menurutnya, kenaikan ini sekali lagi menunjukkan ketidakpedulian pemerintah atas derita rakyat kecil.

"Innalilahi Wa Inna ilaihi Roojiuun. Pemerintah benar-benar tidak mendengarkan suara rakyat. Pemerintah benar-benar tidak peduli lagi dengan kondisi masyarakat," ungkap dia.

"Ini sangat bertolak belakang dengan jargon pemerintah 'Pulih Lebih Cepat dan Bangkit Lebih Kuat'. Ternyata yang dilakukan pemerintah malah menambah beban rakyat," tambah Diah.

Politisi perempuan Fraksi PKS DPR RI ini menilai, masih banyak solusi yang bisa dilakukan pemerintah selain menaikkan harga BBM bersubsidi.

"PKS sudah sering memberikan masukan ke pemerintah termasuk salah satunya pembatasan," tegasnya.

"Pembatasan di sini maksudnya, pengetatan dan pengelompokan kendaraan yang bisa menggunakan BBM bersubsidi," urai legislator Dapil Jabar II itu.

Diah melanjutkan, kenaikan BBM bersubsidi ini merupakan musibah bagi setiap elemen anak bangsa. Pemerintah hanya mencari jalan cepat, tanpa memperhatikan masyarakat.

"Kami berharap apa yang dilakukan pemerintah ini benar-benar sudah dihitung dengan matang, karena dampak ikutannya sangatlah berat," tutup Diah.

Diketahui, Presiden Jokowi resmi mengumumkan kenaikan harga BBM mulai dari pertalite, solar, dan pertamax.

Harga terbaru BBM bersubsidi dan non-subsidi itu mulai berlaku pada Sabtu (3/9/2022) pukul 14.30 WIB.

Harga pertalite naik dari sebelumnya Rp7.650 per liter menjadi Rp10.000 per liter.

Solar naik dari sebelumnya Rp5.150 per liter menjadi Rp6.800 per liter.

Pertamax naik dari Rp12.500 per liter menjadi Rp14.500 per liter. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar