Katib Aam PBNU: Perkuat Tarbiyah An-Nahdliyah

Al Imran | Selasa, 20-09-2022 | 20:24 WIB | 125 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Katib Aam PBNU: Perkuat Tarbiyah An-Nahdliyah<p>

Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Akhmad Said Asrori foto bersama dengan jajaran PWNU Sumbar beserta pengurus PCNU se-Sumbar, ketua lembaga dan ketua badan otonom, pada kegiatan Strategi Penguatan NU di Sumatera Barat, Senin malam di hotel UNP Padang. (humas)

PADANG (19/9/2022) - Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Akhmad Said Asrori menegaskan, warga Nahdlatul Ulama (NU) harus memperkuat ciri-ciri NU itu sendiri.

"Mulai dari akidah an-nahdliyah, fikrahan-nahdliyah, amaliah an-nahdliyah dan tarbiyah an-nahdliyah. Sehingga, ke depan NU bisa berbuat lebih banyak untuk kemaslahatan umat di dunia ini,' ungkap KH Said Asrori pada kegiatan Strategi Penguatan NU di Sumatera Barat, Senin malam di hotel UNP Padang.

KH Said Asrori didampingi sejumlah pengurus PBNU, Katib Muhidin Tohir, A'wan Prof Asasriwarni dan Wakil Bendahara Umum PBNU, Azwandi Rahman.


Menurut Kiai Said Asrori, akidah akan menentukan seseorang mau selamat atau celaka, bahagia atau sengsara. Banyak pihak mengklaim Ahlussunnah Waljamaah, tapi dalam prakteknya tidak sejalan dengan nilai-nilai Ahlussunnah waljamaah (Aswaja). Sehingga, NU memiliki Aswaja sendiri yang dinamakan Aswaja an-nahdliyah.

"Fikrah an-nahdliyah merupakan kerangka berpikir yang dikembangkan NU. Seperti tidak bisa memaksa orang lain untuk masuk Islam, masuk NU. Harus menjaga kemajemukan yang ada di Inonesia ini. Apalagi di Indonesia setidaknya terdapat 717 suku yang tentu memiliki keragaman," kata KH Said Asrori.

Selanjutnya, kata KH Said Asrori, amaliyah an-nahdliyah. Ini sama dengan kearifan lokal, yang dimiliki masing-masing daerah. Artinya, amaliah dan tradisi yang sudah ada dan tumbuh berkembang selama ini di tengah masyarakat, tetap dihormati.

Menurut KH Said Asrori, harakah (gerakan) ke NU harus dimulai dari sekarang yang lebih massif. Harakah tersebut tidak boleh berhenti, tapi terus berjalan. Sedangkan tarbiyah (pendidikan) NU juga perlu mendapat perhatian serius bagi NU di Sumatera Barat.

Saat ini, sudah ada Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sumatera Barat yang harus dibesarkan oleh warga NU Sumbar. Warga NU di Sumbar, tentu punya kewajiban membesarkan UNU tersebut dengan menjadikannya pilihan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Sementara, Ketua PWNU Sumbar, Prof Ganefri menyampaikan, fikrah NU yang tidak berpikir sektarian, perlu terus dikembangkan. Suasana Sumatera Barat yang berbeda karena pola pikir yang juga sudah berubah. Pola pikir yang tidak sektarian tersebut, dapat diubah dengan NU sehingga lebih menghargai perbedaan di tengah masyarakat.

"NU terus membangun komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. Hal ini sejalan dengan kebijakan PBNU yang selalu membangun komunikasi dengan pemerintah."

"Kepada masing-masing PCNU juga diminta membangun komunikasi dengan pemerintahan setempat dalam menjalankan program kerjanya," kata Prof Ganefri yang juga Rektor Universitas Negeri Padang ini.

Dikatakan Prof Ganefri, NU Sumatera Barat terus tumbuh dan berkembang. Berbagai kegiatan diselenggarakan, termasuk pengkaderan, konsolidasi dari pengurus wilayah sampai ke tingkat pengurus ranting.

Kegiatan Strategi Penguatan NU di Sumatera Barat dihadiri Rais Syuriah PWNU, Hendri, Katib Joben, pengurus PCNU se-Sumbar, ketua lembaga dan ketua badan otonom. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar