Gagal Tangani Tragedi Kanjuruhan, PB HMI Nilai Kapolda Jatim dan Kapolres Malang Layak Dicopot

Al Imran | Minggu, 02-10-2022 | 15:04 WIB | 1093 klik | Nasional
<p>Gagal Tangani Tragedi Kanjuruhan, PB HMI Nilai Kapolda Jatim dan Kapolres Malang Layak Dicopot<p>

Wakil Sekretaris Jenderal PB HMI, Arfino Bijuangsa Koto.

JAKARTA (2/10/2022) - Pengurus Besar HMI mendesak Kapolri mencopot Kapolda Jawa Timur dan juga Kapolres Malang, buntut tewasnya ratusan suporter Arema Malang di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/11/2022) malam.

Wakil Sekretaris Jenderal PB HMI, Arfino Bijuangsa Koto menilai, melepaskan gas air mata yang dilakukan pihak kepolisian dalam kerusuhan tersebut, menciderai cita-cita Kapolri saat ini yang tengah menjadikan lembaga Kapolri lebih baik lagi.

"Kalau bisa, copot Kapolda dan Kapolresnya, karena telah menyebabkan ratusan orang tewas. Gara-gara ini, lembaga Polri tentu jadi buruk lagi," nilai Arfino dalam pernyataan tertulis yang diterima, Ahad.


Apalagi, kata Arfino, pelepasan gas air mata dalam menanggani kerusuhan di lapangan sepak bola, merupakan hal yang terlarang.

"FIFA melarang adanya pelepasan gas air mata, apabila terjadi kerusuhan di lapangan, Larangan penggunaan gas air mata tertuang dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations," tegas Arfino.

Pada Pasal 19 b) tertulis, 'No firearms or "crowd control gas" shall be carried or used'. Bunyi aturan ini intinya, senjata api atau gas untuk mengontrol kerumunan dilarang dibawa serta digunakan. "Oleh karenanya, jelas polisi ini melanggar aturan," tuturnya.

Sebelumnya, usai wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan antara Arema Malang vs Persebaya, suporter Arema yang kalah dalam pertandingan, memasuki lapangan. Diperkirakan berjumlah ribuan orang.

Melihat hal ini, kepolisian melepaskan gas air mata, sehingga suporter pontang-panting menuju pintu keluar dan terjadi desak-desakkan serta kekurangan oksigen. Akhirnya, banyak yang berguguran.

Menurut Arfino, strategi pengamanan dalam kondisi darurat atau rusuh di lapangan, perlu ditingkatkan lagi. Misalnya, dengan penambahan personil serta alat pengamanan lainnya.

"Jadi tak perlu dengan cara kasar seperti ini," tegas Arfino. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar