Oknum Intel Halangi Jurnalis Televisi Meliput, Ini Pemicunya

Al Imran | Senin, 10-10-2022 | 09:18 WIB | 197 klik | Kota Bukittinggi
<p>Oknum Intel Halangi Jurnalis Televisi Meliput, Ini Pemicunya<p>

Ilustrasi.

BUKITTINGGI (10/10/2022) - Jurnalis televisi liputan Kota Bukittinggi, Wahyu Sikumbang, jadi korban dugaan intimidasi oleh oknum TNI saat melakukan liputan peristiwa anak yang tersiram minyak panas di rumah sakit Madina, Ahad.

Saat di dalam ruang IGD RS Madina itu, jurnalis MNC media group tersebut mendapat upaya penghalangan mengambil gambar korban, dengan cara pelaku mengibas tangannya ke kamera.

Tak ingin ribut dan mengganggu pasien dan petugas medis, Wahyu keluar IGD melanjutkan mencatat data kejadian.


Saat itu Vijay, nama oknum prajurit intel Kodim 0304/ Agam tersebut mengikuti keluar dan menghampiri Wahyu hingga terjadi adu argumen.

"Saya sedang mengetik di Ponsel saya, lalu Bang Vijay datang dari samping kiri sambil melarang memberitakan insiden yang menimpa anak itu," kata Wahyu, Senin (10/10/2022).

Wartawan yang dikenal dekat dengan aparat TNI ini mengaku heran dan menanyakan alasan pelarangan itu.

"Kenapa bang? Saya kan tidak menulis atau menyangkut-pautkan insiden ini dengan Kodim, TNI atau Lapangan Wirabraja, hanya menulis tempat kejadian di Lapangan Kantin," ungkap Wahyu.

Menurut Wahyu, dia dan rekan-rekan media umumnya sengaja menulis Lapangan Wirabraja sebagai Lapangan Kantin, selain karena penyebutan itu lebih dikenal masyarakat, juga untuk menjaga hubungan baik dengan mitra Kodim jika insiden atau kasus sensitif terjadi di sana.

Namun, oknum Vijay tetap bersikukuh sambil mengatakan "Jangan diberitakan, ini kami selesaikan. Biar kami lapor dulu ke Pasi, katanya," sebut Wahyu menambahkan.

"Silahkan bang, itu bukan urusan saya, karena saya tidak menulis Kodim, jadi saya tidak perlu konfirmasi ke Pasi Intel atau Dandim. Itu urusan bang, silahkan. Jangan sedikit-sedikit dilarang," jawab Wahyu yang ternyata tidak diterima oleh Vijay hingga oknum tersebut lepas kontrol.

"Dia memaki saya di depan orang ramai, 'ampek' lah katanya. Itu banyak saksi yang mendengar, ada sekuriti rumah sakit juga," jelas Wahyu.

Wahyu mencoba mengingatkan mitra di lapangannya itu, tapi kembali tak digubris bahkan bersikap menantang, "Ya, saya percarutkan kamu, mau apa kamu, kata bang Vijay. Okelah kata saya tak mau terpancing," sesal Wahyu.

Lalu wartawan ini pun pergi dari RS melanjutkan liputan ke Lapangan Kantin, hingga bertemu dengan teman lain yang meliput di tempat kejadian.

Tahu teman seprofesinya diintimidasi dan dimaki, sejumlah wartawan menanggapi pelecehan profesi ini dengan berkoordinasi.

"Ini sudah kelewatan. Selama ini wartawan diam disangka takut. Saya setuju kita lanjutkan masalah ini," kata Yursil, wartawan Haluan.

"Mari kita temui Dandim. Biar Dandim yang panggil oknum tersebut di hadapan wartawan dan Dandim harus mengambil sikap agar tidak ada lagi personil yang melanggar kebebasan/hak pers," ungkap Akhmad Ikhsan, reporter RRI Bukittinggi menambahkan.

"Sebagai efek jera, memang harus diberitakan secara jor-joran," tambahnya.

Sementara, jurnalis lain menyebut ulah serupa tak hanya kali ini terjadi. Beberapa waktu lalu, oknum yang sama juga mengintimidasi beberapa wartawan yang mengangkat berita tentang dugaan adanya aktivitas judi di pasar malam Lapangan Kantin.

"Dulu Rudi dibentak-bentak, diancam. Mereka menganggap kita ini tidak punya harga diri," sebut Linda, jurnalis Indonesia satu.

Hal senada sebagai bentuk protes juga diungkap wartawan lain.

Tak ingin kejadian yang sama terulang dan berlarut dikemudian hari, puluhan wartawan Bukittinggi berencana menemui Dandim 0304/ Agam, Senin pagi ini.

Sebelumnya, Ketua PWI Bukittinggi, Anasrul telah menghubungi Pasi Intel Kodim 0304/ Agam untuk berjanji bertemu dengan Dandim Senin ini, membicarakan ulah oknum prajurit tersebut.

"Kita temui Pasi Intel dulu baru kita ke Dandim. Kia lihat hasilnya nanti. Intinya yang bersangkutan minta maaf ke wartawan dan pencerahan bagi yang bersangkutan dan prajurit lain agar tidak menghalangi tugas jurnalistik," kata Anasrul. (ham)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar