Investor Tertarik Budidayakan Magot Skala Industri di Sumbar, Ini Respon Gubernur

Al Imran | Rabu, 12-10-2022 | 22:57 WIB | 284 klik | Provinsi Sumatera Barat
<p>Investor Tertarik Budidayakan Magot Skala Industri di Sumbar, Ini Respon Gubernur<p>

Gubernur Sumbar, Mahyeldi memberikan cenderamata pada manajemen PT Bio Cycle Indonesia yang bergerak di budidaya maggot, di Istana Kompleks Gubernuran Sumbar, Selasa. (humas)

PADANG (11/10/2022) - Gubernur Sumbar, Mahyeldi mengatakan, komposisi sampah organik yang tinggi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, Sumatera Barat memiliki potensi menjanjikan untuk pengembangan budidaya belatung atau maggot (larva lalat black soldier fly) dalam skala industri.

"Selain menjadi solusi pengurangan sampah, maggot juga bisa menjadi sumber protein berbiaya murah yang akan sangat membantu peternak," ungkap Mahyeldi dalam pertemuan dengan jajaran PT Bio Cycle Indonesia yang bergerak di budidaya maggot, di Istana Kompleks Gubernuran Sumbar, Selasa.

Pada kesempatan tersebut, Mahyeldi antusias mendengarkan presentasi dari Budi Tanaka, pengusaha yang telah sukses dalam penangkaran maggot skala industri.


Budi mengaku, Maggot tidak hanya jadi solusi dalam pengelolaan sampah, tetapi menjadi solusi untuk pupuk pertanian maupun pakan ikan. Selain itu, larva tersebut dapat terjamin ketersediaannya setiap saat.

Harganya juga realtif lebih murah dibanding sumber protein lainnya, dengan demikian dapat menekan biaya pakan dalam industri peternakan, yang berkontribusi sekitar 70-75 persen dari total biaya produksi.

"Alur budidaya maggot diawali dari telur lalat BSF lalu ditetaskan sampai menjadi larva, kemudian maggot itu diberikan makan dari limbah organik yang biasanya dari sampah dapur seperti nasi, buah atau sayur," ungkap dia.

"Kemudian, dalam waktu 14 hari, larva itu akan membesar dan digunakan untuk pakan ikan maupun pakan ternak," tambah Budi.

Budi juga mengungkapkan, untuk mencapai hasil yang optimal, kebutuhan sampah untuk pakan maggot bisa mencapai komposisi 1:8. Artinya, untuk 1 kg maggot, diperlukan kurang lebih 8 kg sampah organik.

Angka tersebut tentunya dapat berubah sesuai kondisi yang dihadapi. Jika pembudidaya ingin meraih hasil lebih baik, asupan pakan bisa ditingkatkan. Begitu pula sebaliknya.

Mahyeldi mengapresiasi rencana pengembangan maggot di Sumbar. Dia mengungkapkan, industri maggot cocok dibangun di Kawasan TPA, di Sumbar pun terdapat TPA besar yaitu di Padang, Solok, dan Payakumbuh.

"Maggot ini dalam prosesnya akan memakan sampah organik yang akan sangat membantu mengurangi sampah secara signifikan mengingat komposisi sampah di Kota Padang mayoritas dipenuhi oleh sampah organik," papar dia.

Mahyeldi juga mengaku, selama ini Pemprov Sumbar tengah fokus untuk mengurangi jumlah produksi sampah. Ia juga menyambut positif kerjasama PT Bio Cycle Indonesia dalam mengembangkan industri maggot di Sumbar. Menurutnya, maggot sebagai salah satu solusi mengatasi masalah sampah di Sumbar.

"Kami tertarik membangun industri pengembangan maggot dan berpeluang menjalin kerjasama dengan Bio Cycle, terkait pengelolaan sampah, pupuk pertanian, dan pakan ikan yang nantinya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat," ujar dia. (kyo)

Install aplikasi Valora News app di Google Play

Komentar