Home » Opini

Salingka Maninjau, Bung Hatta dan Literasi Ranah di Hari Buku

Senin, 2021-05-17 | 08:31 WIB | 353 klik
<p>Salingka Maninjau, Bung Hatta dan Literasi Ranah di Hari Buku<p>

Ilhamsyah Mirman

Founder Ranah Rantau Circle (RRC) Institute

Perjalanan melenakan ke Sungai Batang, Maninjau dengan keindahan alam, kekayaan intelektual dan kontribusi tokoh nasionalnya. Siapa yang tidak kenal dengan permadani biru berselimut gumpalan putih awan, kelok mengular 44 tikung, jejeran cagar budaya dan rumah gonjong berabad usia. Semua seakan di sesakkan pada satu wilayah indah. Mungkin karena kenikmatan yang diberikan itu pulalah yang menuntut para penghuninya membayar dengan capaian monumental, terkhusus dalam dunia pemikiran dan literasi intelektual.

Siapa yang tidak kenal Buya Hamka, M. Natsir, Rasuna Said, Nur Sutan Iskandar, atau generasi berikutnya seperti Bachtiar Chamsyah, singa parlemen Arteria Dahlan, serta yang teranyar Sang Negeri 5 Menara Ahmad Fuady. Tak ada tempat yang tidak diisi oleh putera Maninjau di Republik ini.

Tiga dari mereka adalah jago literasi yang diakui pada zamannya. Nur Sutan Iskandar, kelahiran 3 November 1893 'Sang Hulubalang Raja', penulis paling produktif di zaman Balai Pustaka. Buya Hamka, Sastrawan, Sejarawan, Politikus & Ulama otodidak kelahiran 17 Februari 1908. Serta generasi terkini, penulis trilogi Ahmad Fuady. Mereka bukan hanya menulis, bahkan menghasilkan karya monumental.


Ditarik lebih luas lagi, bagaimana Bung Hatta, Tan Malaka & Muhamad Yamin yang identik dengan pemikiran dan akrab literasi, sehingga memiliki keluasan pengetahun yang membuat mereka sejajar sejawatnya dari mancanegara. Konsisten sejak remaja hingga akhir hayat dengan menjadikan menulis sebagai salah satu jalan pengabdian dalam perjuangan. Fenomena 'buku adalah isteri pertama' bagi Sang Proklamator, termasuk pernyataannya, 'aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas', memperlihatkan betapa semangat literasi dalam bentuk paling dasar telah mendarah daging didalam diri para pendahulu sepanjang hidupnya. Dibuktikan dengan karya nyata menghasilkan buku babon.

Hari Buku Nasional

Semangat literasi yang sudah terbangun dan mentradisi di Maninjau dan ranah Minang dalam landscape ke Indonesiaan belakangan kian redup. Saat dicanangkan Hari Buku Nasional 17 Mei 2002 tingkat kemampuan membaca pendudk berusia 15 tahun ke atas 87,9 persen. Sementara Malaysia mencapai 88,7 persen dan Thailand 92,6 persen. Artinya pada masa itu masyarakat Indonesia masih banyak yang tidak bisa membaca.

Tahun 2016, The Central Connecticut State University melakukan "The World's Most Literature Nation" dengan hasil, dari 61 negara, Indonesia menduduki peringkat ke 60, 'unggul' dari sang jurukunci negara pedalaman di Afrika, Botswana. 'Prestasi' yang terkonfirmasi dengan realita keseharian.

Sementara, dari segi jumlah, produksi buku Indonesia pada tahun 2002 rata-rata 18.000 judul, sangat jauh dengan tingkat produksi buku di Tiongkok yang mencapai 140.000 judul buku setiap tahun. Apa mungkin minimnya buku yang dihasilkan karena frustasi yang melanda para insan perbukuan. Tergambar salah satunya di tayangan ILC yang disampaikan sejarawan Hasril Chaniago tentang dukungan negara asing dalam penyusunan sebuah buku yang mencapai 5 milyar, sementara 'proyek' yang sama dari Pemda Sumbar bernilai 25 juta. Bak langit dan bumi perbedaannya. Keadaan yang tentunya membuat insan perbukuan meringis.

Gambaran Saat Ini

Era milenial membawa dampak bagi dunia literasi. Banyak platform dan situs yang menyediakan buku dalam bentuk digital secara gratis. Aplikasi seperti wattpad sejauh ini cukup berperan menumbuhkan minat baca. Penulis muda bermunculan dari keberadaan aplikasi tersebut. Hanya saja hal itu masih belum menjamin bahwa minat baca di Indonesia meningkat. Justeru sebaliknya. Kecanggihan teknologi yang seharusnya membawa dampak positif, malah menjadi bumerang. Sosial media dan game merajai perkembangan generasi saat ini. Anak balita sudah mengenal ponsel dan merengek jika tidak diberi. Sementara pada masa lampau sebelum teknologi secanggih sekarang, anak usia tersebut sudah belajar membaca.

Faktor lain adalah stigma masyarakat yang menganggap negatif orang yang suka membaca. Pernah dengar istilah 'kutu buku'? Sudah bukan rahasia umum lagi anggapan terhadap si kutu buku adalah buruk. Para kutu buku dianggap kolot dan 'kuper'. Sementara di sisi lain kecenderungan anak Indonesia ingin dianggap keren. Sehingga anggapan buruk tentang kutu buku menjadikan generasi muda enggan menyentuh buku.

Meskipun berbagai faktor tersebut membuat secara keseluruhan minat baca Indonesia rendah, masih ada kemungkinan satu dari seribu masyarakat yang memiliki minat besar terhadap buku. Sayangnya minat baca yang rendah berimbas pada produksi buku sehingga harganya mahal. Akhirnya bermunculan pengecer yang menawarkan buku bajakan. Jadi, segala permasalahan terkait literasi di Indonesia pada dasarnya saling terkait.

Yuk ciptakan Kebiasaan Baru dalam diri kita

Banyak yang bisa dilakukan dalam mengatasi kejumudan dunia buku, dalam hal membaca dan menulis ini. Seiring kian dominannya era virtual dan makin signifikan peran dunia digital, maka tidak bisa lagi kita defensif, menghindar dari pemanfaatan kecanggihan teknologi ini. Buatkan anak-anak pojok baca di rumah. Sediakan waktu untuk membaca buku bersama. Jangan biarkan mereka tidak punya waktu untuk membaca tetapi bermain gadget seharian. Jangan beralasan buku mahal. Karena dengan buku anak akan kaya ilmu.

Ciptakan mini library, Isi dengan buku-buku menarik sesuai dengan minat baca. Apabila dirumah ada anak-anak sediakan bahan bacaan yang menarik untuk mereka yahh moms', ajakan simpatik seperti ini membanjiri wall medsos.

Dari Banten, Semarang, Bandung, bahkan kota kecil Jember berlomba-lomba pemerintah daerah, komunitas dan aktivis menyambut kedatangan hari penting ini. Literatuscendekia.one mengadakan kampanye #MajuBersamaBuku secara daring. Sebagai penggerak literasi, gerakan ini diinisiasi untuk mengakrabkan para pengguna media sosial dengan buku. H2O Coffee & Space bersama Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang mengadakan program GELIAT BERGEMA (Gerakan Literasi Atraktif Bergerak Bersama) melalui program KEPO CAH! (KEgiatan POjok baCA Hebat) dengan memberikan sejumlah layanan publik.

Yang lebih menggema Festival Hari Buku Nasional bertema Inspirasi Literasi dari Banten oleh penggiat literasi senior Gol A Gong, yang baru terpilih sebagai Duta Baca Indonesia menggantikan Najwa Shihab. Mereka melaksanakan Tadarus Literasi dan Aksi Sejuta Buku. Tempo Institute dengan webinar gratis From Blog to Book. Adapula Derma Buku yang bertujuan untuk menggalang buku, dari para pegiat literasi, instansi pemerintah maupun masyarakat.

***

Sementara di ranah, sejauh ini tidak ada satu gelombang, bahkan riakpun sepertinya tidak terdengar menyambut Hari Buku. Kondisi yang sama, tidak terasa apa-apa bertepatan dengan Hari Buku Internasional atau Hari Buku Anak Internasional bebeapa waktu lalu. Seakan semangat literasi dan berkarya tulis sudah hilang dari bumi Minang. Sungguh bertolak belakang dengan gemuruh semangat para pendahulu.

Apa tidak menangis para Bapak Bangsa dan intelektual Salingka Maninjau dari pandamnya masing-masing melihat anak cucu menempatkan ilmu dan buku secara serampangan. Entahlah. (*)

Komentar

Opini lainnya

<p>CFW, Pewajaran Keanehan Perilaku di Dunia Maya ke Realitas Nyata<p> Sabtu, 30-07-2022 17:30 WIB

CFW, Pewajaran Keanehan Perilaku di Dunia Maya ke Realitas Nyata

oleh: Zainuddin Assyarifie
Ketua Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Jabar
<p>Narasumber Pers<p> Kamis, 28-07-2022 15:04 WIB

Narasumber Pers

oleh: Wina Armada Sukardi
Pakar hukum dan etika pers
<p>Manajemen Krisis dalam Government Public Relations<p> Senin, 04-07-2022 23:16 WIB

Manajemen Krisis dalam Government Public Relations

oleh: Zev Hanna Fauziah
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Univeristas Andalas
<p>Sengkarut Pengelolaan Aset Daerah oleh Bupati Padang Pariaman.<p> Sabtu, 25-06-2022 22:11 WIB

Sengkarut Pengelolaan Aset Daerah oleh Bupati Padang Pariaman.

oleh: Arfino Bijuangsa Koto
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya