Home » Opini

Membumikan Peran Ninik Mamak di Ranah Minang Masa Kini

Sabtu, 2021-11-27 | 19:12 WIB | 402 klik
<p>Membumikan Peran Ninik Mamak di Ranah Minang Masa Kini<p>

Y. Dt. Maruhum

Penghulu di Suku Mandaliko, Jorong Piliang, Nagari Limo Kaum, Tanah Datar

Kelok Paku kacang balimbiang.

Baok tampuruang lenggang-lenggangkan.

Dibaok anak ka Saruaso .


Anak dipangku, kamanakan dibimbiang.

Ingek Nagari ka Binaso

Kutipan mamangan adat diatas adalah gambaran tentang peran Ninik Mamak atau biasa juga disebut penghulu di ranah Minang. Dari mamangan itu tergambar tegas tentang peran seorang Ninik Mamak atau sebagai Penghulu di Minangkabau. Perannya yakni sebagai seorang ayah atau kepala keluarga terhadap anak-anaknya, sebagai Mamak di kaumnya dan sebagai tokoh masyarakat di Nagari atau dimana dia berada.

Sebagai seorang ayah dia bertanggung jawab penuh membesarkan anak-anaknya. Anak dipangku bisa dimaknai kewajiban seorang ayahlah membesarkan anaknya dengan segala kebutuhan yang diperlukan baik kebutuhan materil dan spirituil. Kebutuhan materil, dia harus bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan perumahan sang anak sehingga anak dapat bertumbuh sehat hingga anak tersebut bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Sedangkan kebutuhan spirituil, bagaimana anak bertumbuh dengan akhlak yang baik dan memiliki Ilmu pengetahuan sehingga dengan akhlak dan ilmu pengetahuan,sang anak bisa menjalani hidup yang berhasil di dunia dan akhirat.

Sebagai seorang Mamak atau pemimpin dikaumnya dia juga dibebankan membimbing anggota kaum atau kemanakan menjadi orang yang sukses. Membimbing bisa diartikan bagaimana seorang mengarahkan kemanakan menjadi orang yang berhasil. Berbeda dengan anak yang menjadi tanggung jawab penuh, sementara terhadap kemanakan lebih pada membuat arahan dan pendayagunaan pusako dan sako yang ada untuk kesejahteraan kaumnya.

Mengapa pusako dan sako yang didayagunakan, karena dua komponen itu yang terus diwariskan kepada Ninik Mamak sebagai modal dalam memimpin kaumnya. Pusako adalah harta berupa tanah dan harta lainnya yang walaupun kepemilikannya dikuasai oleh pihak perempuan dalam kaum itu, namun pengelolaannya sepenuhnya diserahkan kepada Ninik Mamak. Sedangkan Sako sesungguhnya bisa dimaknai sebagai ikatan kekeluargaan menurut garis keturunan perempuan dimana Ninik Mamak dijadikan sebagai Penghulu dalam memimpin kaum itu.

Dibandingkan pusako yang kini keberadaannya sudah banyak berkurang baik yang disebabkan terjual atau tergadai, Sako sebagai warisan adat alam Minangkabau terlihat lebih awet dan bertahan sampai sekarang. Bila warisan ini didayagunakan bukan tidak mungkin dampaknya terhadap upaya penyejahteraan kemanakan jauh lebih berdaya guna. Tentu akan lebih bagus lagi pendayaan gunaannya juga didukung oleh pusako yang masih ada.

Sementara sebagai tokoh masyarakat di Nagari, seorang Ninik Mamak harus berperan menjaga kehidupan masyarakat yang dinamis menuju masyarakat yang harmonis, tenteram dan bergerak pada kemakmuran. Dalam hal ini, seorang Ninik Mamak harus bisa berperan sebagai problem solver atau penyelesaian masalah setiap persoalan yang terjadi setengah masyarakat. Meski saat ini, Ninik Mamak tidak lagi menjadi Pimpinan Formal di masyarakat karena sudah digantikan pemerintahan yang ditentukan oleh aturan negara, namun peran itu masih bisa dijalankan mengingat keberadaannya masih diakui oleh kaum dan masyarakat. Tentu dalam menjalankan peran ini dia harus berpadu dengan tokoh lain yang didalam adat Minang diistilahkan tigo tungku sajarangan yakni Ninik Mamak, Candiak Pandai dan Alim Ulama.

Lalu bagaimana seorang Ninik Mamak memerankan ketiga fungsi tersebut dimasa kini. Ini pertanyaan penting yang harus bisa dijawab dan diterapkan mengingat begitu banyak perubahan situasi dan kondisi yang terjadi saat ini baik yang disebabkan oleh perubahan aturan negara yang semakin menggerus peran Ninik Mamak, maupun yang disebabkan perkembangan zaman yang semakin maju, canggih dan individual. Terkhusus lagi perannya terhadap kemanakan yang paling banyak termakan arus perubahan.

Gerak Sosial dan Ekonomi Berbasis Kaum.

Mengenai peran Ninik Mamak terhadap kemanakan ditengah perubahan yang terjadi sesungguhnya mamangan adat Minang sudah menyatakan dalam pepatah Sakali Air Gadang, Sakali Tapian Berubah. Itu menandakan bahwa perubahan adalah suatu yang pasti terjadi dan Sunnatullloh. Dalam filosofi Adat dan Alam Minangkabau boleh jadi perubahan itu bisa dikategorikan Adat Yang Sabana Adat. Karena itu perubahan itu tidak boleh dilawan, tapi dihadapi dengan merubah cara pandang dan mencari model penerapan peran Ninik Mamak yang tepat terhadap kemanakan ditengah situasi dan kondisi berubah itu sehingga peran tersebut diterapkan lagi.

Dalam konteks ini seorang Penghulu atau Ninik Mamak merubah cara pandang terhadap dua warisan utama yang diterima sebagai Singguluang yang menjadi bekal untuk menopang perannya yakni Pusako dan Sako. Kedua warisan itu harus didayagunakan sebagai kekuatan untuk membimbing anak kemanakannya. Kedua warisan itulah menjadi modal utama dalam menggerakkan kesejahteraan kaumnya.

Sebagaimana yang sedikit disinggung diatas, keberadaan Pusako dan Sako menjadi modal penting dalam menggerakkan kesejahteraan anggota kaum. Dan diantara kedua modal itu keberadaan Sako yang diartikan sebagai ikatan kekerabatan menjadi modal paling penting dalam mendorong kemakmuran kaum.

Sebagai pemimpin di kaumnya, penghulu bisa membuat sebuah sistim jaminan sosial untuk mengatasi berbagai persoalan sosial ditengah kaumnya. Sebagai contoh untuk jaminan sosial bisa saja satu kaum mengumpulkan uang dari anggota kaum yang digunakan untuk membantu anggota kaum yang kemalangan seperti sakit atau mengalami musibah. Dan tidak mungkin donasi berbasis kaum dikembangkan untuk mengatasi persoalan pendidikan anggota kaum. Justru hal ini yang harus diupayakan seorang penghulu atau Ninik Mamak setengah kaumnya. Semua orang tentu setuju bahwa untuk membimbing kemanakan tidak ada yang paling utama selain memastikan seluruh anggota kaum mendapat pendidikan yang baik dan ikatan kekerabatan sesama satu kaum yang masih hidup ditengah masyarakat Minang dapat dipakai membangun sistim itu.

Disamping gerakan sosial, ikatan kekerabatan ini juga dapat dijadi gerakan ekonomi Kaum. Salah satu kegiatan ekonomi yang dibuat itu adalah mendirikan koperasi berbasis kaum. Sangatlah mungkin mendirikan koperasi berbasis kaum ini. Anggota kaum yang telah menghasilkan adalah calon anggota dari koperasi tersebut. Usaha yang didirikan koperasi disesuaikan dengan kebutuhan anggota. Yang paling mungkin adalah koperasi simpan pinjam karena bisa mengatasi masalah modal bagi anggota kaum dalam berusaha.

Dan yang paling menarik adalah sistem yang dibangun dalam koperasi. Sistim koperasi yang dibuat selain berpedoman prinsip prinsip pengelolaan koperasi, sistem juga dibangun mengakomodir ikatan-ikatan kekerabatan yang lebih kecil dalam kaum itu, terutama sistem pengawasan dan pembayaran atau peneguhan. Pada intinya, sistem yang dibangun mampu membuat koperasi berkembang dan maju dengan mengoptimalkan ikatan ikatan kekeluargaan yang ada.

Kemajuan zaman hari ini, baik perkembangan sistem keuangan khusus perbankan dan teknologi digital membuat pengembangan kelembagaan ekonomi yang melibatkan seluruh anggota kaum baik yang dikampung maupun di rantau bisa dilakukan. Sistem yang dibangun dalam pengelolaan koperasi bisa menggunakan kemajuan teknologi tersebut, baik untuk penagihan, pembayaran maupun untuk evaluasi dan pengawasan gerak koperasi. Adanya ikatan kekeluargaan dan kemajuan teknologi ini menjadi pondasi utama pembangunan gerak ekonomi berbasis kaum.

Lalu dimana posisi Pusako atau harta warisan yang kebanyakan berupa tanah dalam peran Penghulu membimbing anak kemanakannya. Kalau dimaknai lebih subtantif tanah warisan yang diterima kaum perempuan di Tanah Minangkabau bukanlah diarahkan pada kepemilikan pribadi dari kaum perempuan itu tapi adalah kepemilikan kaum perempuan secara bersama termasuk untuk anak cucu perempuan yang belum lahir.

Karena itu dalam konsep Adat Minangkabau sangat sulit untuk memindahkan kepemilikan harta pusaka tersebut. Ada syarat -syarat khusus yang membuat Penghulu dikaum sebagai pengelola bisa mengalihkan kepemilikan hak-hak kaum perempuan kepada orang duluan kaumnya. Itupun bukan dengan menjualnya, melainkan memindahkan pengelolaan pada pihak lain dengan jaminan tertentu. Pada prinsipnya orang -orang tua di Minangkabau ini dulunya menginginkan keberadaan harta pusaka ini tetap bertahan dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran kaum secara turun temurun.

Karena itu juga keberadaan Pusako berupa tanah ini dalam konteks peran Ninik Mamak hari ini, seorang Penghulu harus menempatkan harta pusaka ini sebagai pondasi utama gerakan sosial dan ekonomi yang dibangun. Hasil-hasil dari harta pusaka tersebut harus dijadikan sebagai sumber pendapatan untuk mendukung gerakan sosial dan ekonomi itu. Kongkritnya jika itu bernama gerakan sosial, hasil dari harta pusaka itu dialirkan untuk mendukung gerakan sosial dan jika itu bernama gerakan ekonomi semisal berbentuk Koperasi, hasil dari harta pusaka sebagian dipergunakan untuk memperbesar modal koperasi.

Dalam kata lain, seorang Ninik Mamak atau Penghulu hari ini dalam menjadi ayah, pembimbing kemanakan dan problem solver dimasyarakat, dia haruslah seorang manajer yang mampu mengelola aset -aset kaumnya dengan sebaik mungkin sehingga bisa menopang gerakan sosial dan ekonomi di kaumnya. Tentu juga dari pengelolaan itu, seorang Penghulu juga harus bisa mendapatkan hasil untuk digunakan dalam peran memangku anak dan penari solusi masalah di tengah masyarakat. Dan akan lebih baik jika seorang Penghulu juga memiliki pekerjaan yang baik sehingga tidak semata mata mengandalkan pendapatan dari mengelola aset-aset kaumnya.

Apakah ini mungkin terjadi? Waallahu A'lam bi as-Showab. Semoga. (*)

Komentar

Opini lainnya

<p>Haris Pratama, Kebanggaan Piaman<p> Minggu, 14-11-2021 18:59 WIB

Haris Pratama, Kebanggaan Piaman

oleh: Yohanes Wempi
Senior KNPI Sumatera Barat
<p>TREND BUDAYA NONGKRONG DI " /> Minggu, 31-10-2021 06:30 WIB

TREND BUDAYA NONGKRONG DI "KEDAI KOPI"

oleh: Silvia Permata Sari SP MP
Dosen Fakultas Pertanian Unand
<p>Hobi jadi Pundi<p> Rabu, 29-09-2021 14:33 WIB

Hobi jadi Pundi

oleh: Dr (Cand) Silvia Permata Sari SP MP
Dosen Fakultas Pertanian Unand
<p>Pemimpin Berkomitmen itu Erman Safar<p> Jumat, 06-08-2021 23:27 WIB

Pemimpin Berkomitmen itu Erman Safar

oleh: Hamriadi SSos ST
Sekretaris JMSI Bukittinggi