Home » Opini

CFW, Pewajaran Keanehan Perilaku di Dunia Maya ke Realitas Nyata

Sabtu, 2022-07-30 | 17:30 WIB | 206 klik
<p>CFW, Pewajaran Keanehan Perilaku di Dunia Maya ke Realitas Nyata<p>

Zainuddin Assyarifie

Ketua Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Jabar

FENOMENA

Citayam Fasion Week (CFW), membuat semua tercengang. Kegiatan pamer cara berpakaian tersebut, tidak hanya menggerakkan kalangan atas dari mulai artis ibu kota hingga pejabat sekelas gubernur, turut andil dalam ivent itu.

Ya, Citayam Fashion Week ini memang tengah digandrungi remaja bahkan orang dewasa. Mereka bergerombol di kawasan SCBD Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

Namun siapa sangka, hal unik mengherankan muncul diajang tersebut. Beberapa remaja putra-putri tampil bagaikan model dan mereka memperagakan dirinya berjalan di zebra cross yang sesungguhnya bukan untuk ajang tersebut, beruntung polisi segera menghentikan kegiatan tersebut.


Hal yang perlu diperhatikan dari fenomena tersebut adalah munculnya beberapa remaja pria yang berpakaian wanita dan berdandan ala perempuan, padahal sesungguhnya hal itu jauh dari norma dan keadaban bangsa Indonesia, atau bahasa agamanya menyalahi kodrat.

Mereka tampil di muka umum dengan gaya dan lenggokan bak model wanita padahal ia adalah seorang pria.

Fenomena menyedihkan terjadi di ajang tersebut, lunturnya moral dan lenyapnya etika telah merasuki generasi millennial calon penerus bangsa, lebih aneh lagi ketika penonton menganggap hal itu adalah perilaku wajar, tidak semuanya memang tapi fenomena itu nyata di ada dan terjadi dalam ajang CFW.

Salah seorang ulama terkenal, KH Yusuf Chudlori atau lebih dikenal dengan Gus Yusuf memandang, fenomena ini sebagai bentuk perlawanan dari masyarakat terpinggirkan. Mereka mampu mendobrak sebuah peragaan busana yang biasanya dilakukan di catwalk oleh kalangan tertentu.

"Laki-laki kemayu sekarang banyak sekali. Hal itu menyalahi kodrat dan anehnya dianggap lumrah. Padahal, agama melarang laki-laki menyerupai perempuan baik dari sisi pakaian, gaya bicara, lenggak-lenggok dan cara berjalan. Itu dilarang keras atau haram. Begitu pula perempuan menyerupai laki-laki itu menyalahi kodrat Allah SWT," jelasnya.

Gus Yusuf berharap dalam kebebasan berekspresi, anak muda tetap menghormati nilai-nilai agama dan budaya bangsa dikutip dari www.nu.or.id.

Dari dunia maya ke dunia nyata

Para remaja yang sedang mencari jati diri, mayoritas hanya korban dari peradaban yang sedang terjadi, sebut saja sebuah platform yang sedang booming yakni Tiktok.

Catatan Global, status pengguna tiktok dunia naik pesat dari 623.174.128 tahun 2020 naik menjadi 1.000.000.000 tahun 2022.

Di Indonesia pengguna media sosial yang berasal dari negeri Tirai Bambu (China) tersebut penggunanya juga naik pesat dari tahun sebelumnya dari 38,7% menjadi 63,1% (Sumber: Hootsuite).

Tidak semata-mata seseorang berani tampil di muka publik tanpa ada sebab, mereka berani menampilkan sesuatu artinya mereka memiliki referensi atau bekal yang cukup untuk melakukannya.

Perlu digarisbawahi, bahwa mayoritas dari peserta CFW adalah pengguna media sosial aktif. Mereka terbiasa berinteraksi di ruang maya, setidaknya 3 jam 17 menit, merujuk hasil survey hootsuite (We are Social).

Setidaknya, terlihat bahwa akumulasi pergaulan di Medsos sudah muncul di dunia nyata, yakni anggapan bahwa laki-laki dengan busana wanita, dianggap hal yang wajar.

Demikian juga dengan maskulinnya wanita di ajang tersebut, seolah bukan masalah bagi para remaja yang hadir di Dukuh Atas. Dugaan sementara, kaum LGBT seolah mendapat ruang untuk mengekpresikan jati dirinya di momen itu.

Masalah pewajaran perilaku remaja laki-laki yang kemayu/genit dan perempuan maskulin tersebut, harus jadi sorotan khusus bagi semua kalangan terutama pemerintah dan para pendidik.

Regulasi mengenai penggunaan media sosial meskipun sudah mulai ditata Kominfo dengan PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik), namun usaha-usaha peningkatan mutu Literasi Digital juga harus di massifkan, sehingga para penggunanya mampu menyikapi disrupsi digital dengan baik dan bijak.

Pewajaran perilaku menyimpang ini, tentu tidak bisa dibiarkan karena lambat laun akan menjadi bola salju yang jika terlambat mengantisipasi maka dampaknya akan menjadi penyakit di masyarakat.

Entitas mereka wajib diawasi, dibina dan diarahkan secara kontinyu. Sebab, pada waktunya nanti, mereka akan jadi penyumbang bonus demografi terbanyak.

Jika upaya-upaya produktifitas remaja tidak dilakukan sejak sekarang, maka tunggu 5 sampai 10 tahun lagi, kita akan melihat kegagalan 1 generasi untuk mencapai kemajuan.

Naudzubillah min dzalik. (*)

Komentar

Opini lainnya

<p>Narasumber Pers<p> Kamis, 28-07-2022 15:04 WIB

Narasumber Pers

oleh: Wina Armada Sukardi
Pakar hukum dan etika pers
<p>Manajemen Krisis dalam Government Public Relations<p> Senin, 04-07-2022 23:16 WIB

Manajemen Krisis dalam Government Public Relations

oleh: Zev Hanna Fauziah
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Univeristas Andalas
<p>Sengkarut Pengelolaan Aset Daerah oleh Bupati Padang Pariaman.<p> Sabtu, 25-06-2022 22:11 WIB

Sengkarut Pengelolaan Aset Daerah oleh Bupati Padang Pariaman.

oleh: Arfino Bijuangsa Koto
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya
<p>PKPU Tahapan Pemilu Diundangkan, Polemik Penundaan Pemilu 2024 Terjawab<p> Selasa, 21-06-2022 22:22 WIB

PKPU Tahapan Pemilu Diundangkan, Polemik Penundaan Pemilu 2024 Terjawab

oleh: Wanhar
Komisioner KPU Pasaman Barat